√ Perjalanan Berharga Mengelilingi Aceh - Heyraneey | Talk Less Write More

Perjalanan Berharga Mengelilingi Aceh

 

Beberapa waktu lalu saya dan keluarga ingin menuju ke kampung halaman ayah di Medan, tentu perjalanan darat memakan waktu kurang lebih 1 hari jika jalur biasa, tapi kali ini ada yang berbeda dari perjalanan kami.  kami memilih jalur yang “tidak biasa” alias jalur yang memang lebih jauh dibandingkan sebelumnya. Bukan tanpa tujuan tapi  ayah dan ibu ingin mengajak kita melihat keberagaman yang ada di sepanjang perjalanan. Sambil melihat hal-hal baru yang belum pernah kami lihat sebelumnya. Kita menempuh perjalanan 5 hari untuk sampai ke Medan berkali-kali lipat ya dibandingkan sebelumnya, tapi Ini pengalaman yang sangat mengesankan seumur hidup saya. Dalam 5 hari kita beristirahat saat malam dan paginya kita melanjutkan perjalanan, beberapa daerah yang kami singgahi ternyata membawa tampilan yang berbeda walau masih di provinsi yang sama yaiut Aceh. Kita melewati jalur dari Aceh Barat sampai dengan Sidikalang dan Tanah Karo, di perjalanan kita juga mampir di Singkil rencananya kita ingin  menyeberang ke pulau banyak tapi ternyata tidak ada kapal yang berlayar pada waktu itu akhirnya kita urungkan perjalanan.

 

Perjalanan  pertama, kami singgah di Aceh Barat di situ  ada masjid yang kami singgahi berikut fotonya, di Aceh Barat kita makan bakso sapi yang rasanya ingin kembali ke saana, sayangnya saya lupa namanya.

 

Kemudian kita beranjak ke Abdya, Aceh Barat daya setelah perjalanan jauh, ada sate yang enak sekali kalau saya kembali ke sana, tentu saya pasti akan makan sate itu lagi. Sate rusa, sate menggunakan daging rusa dengan bumbu padang, per porsi harganya Rp20.000 mungkin lebih mahal dibandingkan sate ayam dan sate sapi pada umumnya.  



Saya menyesal hanya membeli satu porsi untuk dibawa ke hotel.  Nah di sini kita menginap di sebuah hotel, ada satu kejadian yang tidak mengenakkan, keesokan harinya ketika kita ingin check out, saya menyadari jam tangan saya tidak lagi berada di tangan saya, alias hilang. Jam tangan kesayangan saya, saya panik mencari kesana kemari mencari di lobby hotel, di restoran, di kamar, saya tidak menemukannya sama sekali. Cerita lengkapnya bisa dibaca di sini 

 

Sedih tapi karena kita harus melanjutkan perjalanan, apa lah dikata. Namun, ayah saya berinisiatif menyuruh saya ke resepsionis hotel, menitipkan nomor handphone di situ, jika mereka menemukannya, meminta tolong a untuk menghubungi.  Kemudian saya mengikuti instruksi dari saya langsung ke resepsionis hotel dan mengatakan jam tangan saya dengan ciri-ciri warna hitam dan sebagainya.

 

Kita pun melanjutkan perjalanan, setelahnya tak ada lagi keceriaan di wajah saya, sampai Ibu saya bilang “Jika memang itu rezekimu itu akan kembali padamu. Namun, jika itu tidak kembali padamu berarti rezekimu terhadap jam itu sudah habis.” Dan setelahnya saya Ikhlas, tidak memikirkan lagi bagaimana nasib jam kesayangan saya tersebut, walau tentu agak nyelekit ya jam kesayangan nggak tahu nasibnya bagaimana.

 

Kita melanjutkan perjalanan menuju Singkil, perjalanan menuju Aceh Singkil sesampai di sana, kita makan di sebuah rumah makan yang buka pada malam hari dan hanya menjual nasi goreng. Terdapat hal unik yang saya sadari, rumah makan ini unik menurut saya karena semua pengunjungnya kecuali kita sebagai pendatang saling bersapa satu sama lain, seolah sangat akrab, karena ini sebuah kota yang tidak terlalu besar sehingga setiap penduduknya saling mengenal satu sama lain pikir saya waktu itu.

 

Nasi gorengnya benar-benar enak dimasak langsung sehingga hangat dan ‘segar’ saat dimakan. Pilihan menunya juga hanya nasi goreng minumannya juga hanya teh manis tapi pembelinya ramai sekali, dan akrab satu sama lain,  menarik ya.


 

Besok paginya kita menyambangi makam yang cukup terkenal di daerah ini makam Syekh Abdur Rauf As-Singkili. Beliau juga merupakan salah satu tokoh yang sangat berpengaruh terutama terhadap pendidikan di Aceh sehingga lahirlah Universitas Syiah Kuala yang nama beliau diabadikan. 



Setelah dari Singkil kita langsung melanjutkan perjalanan lagi, daerah yang sangat menarik juga perhatian saya yaitu daerah Pakpak Bharat yang masuk Sumatera Utara di Pakpak Bharat, artikel yang pernah saya baca daerah ini termasuk daerah 3T.  Di sini saya hanya melihat SPBU kecil dan hanya menjual  premium dan juga solar yang subsidi, tidak ada bahan bakar yang non-subsidi di daerah ini. SPBU nya juga  tidak besar, hanya kecil.

Menurut hemat perhatian saya, berarti pemerintah telah berusaha dan melakukan riset yang baik untuk pemerataan bahan bakar minyak sehingga  daerah terpencil dapat mengakses bahan bakar minyak dengan murah dan mudah. Saya  mengapresiasi kinerja pemerintah terutama Pertamina akan hal ini karena apa?  Karena saya melihat juga ketika perjalanan yang dijual memang yang bersubsidi, saya merasa bahwa ini tepat sasaran.

Karena kita  sudah masuk ke kawasan Sumatera Utara tapi bukan di kotanya kiri-kanan sudah mulai banyak sekali rumah ibadah yang berbeda, kiri-kanan banyak sekali gereja dan masjid yang letaknya tak berjauhan.

 

Saat itu kita shalat di Masjid, juga ada gereja sama lihat keduanya saling berdampingan. Percaya bahwa hubungan kita dengan Tuhan itu adalah hal yang sangat penting, tapi hubungan kita dengan manusia juga tak kalah penting oleh karena itu kita harus memiliki sikap toleransi.

Saya percaya bahwa dunia tak hanya berputar di sekitar kita saja,  pengalaman perjalanan saya ini mungkin terkesan tulisannya singkat. Saya akan menuliskan beberapa tulisan lagi khusus spesifik di tiap daerah ini nanti, selama perjalanan banyak daerah yang belum pernah, saya kunjungi. Perjalanan ini juga membawa banyak arti kepada saya, bahwa banyak sekali keindahan alam yang masih belum dijelajahi, juga banyak sekali beragam karakter dan tempat-tempat yang belum juga saya singgahi, belum juga saya pahami, tapi saya percaya ketika saya punya sikap toleransi yang tinggi, saya bisa berada di manapun tanpa harus dimusuhi. Tulisan sederhana ini saya dedikasikan untuk mengabarkan dan menyebarkan hal-hal baik, keberagaman, dan toleransi. Ini juga cara saya untuk merawat kebersamaan, toleransi, dan keberagaman. Bagaimana cara kamu? Kabarkan/sebarkan pesan baik untuk MERAWAT kebersamaan, toleransi, dan keberagaman kamu dengan mengikuti lomba “Indonesia Baik” yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio). Syaratnya, bisa Anda lihat di sini 

Get notifications from this blog

Halo! Terima kasih sudah membaca.