Heyraneey | Talk Less Write More
Red Flag, Tanda Tuhan Sayang padamu

Red Flag, Tanda Tuhan Sayang padamu

 

Mengetahui red flag secara cepat, ini sering sekali terjadi di kehidupan banyak orang, misalnya kalian mengenal seseorang di hidup kalian entah itu sebagai teman belajar,  teman kuliah, teman main, atau bahkan orang yang menurut kalian itu ingin kalian jadikan pasangan hidup, tapi ternyata banyak banget red flag yang ada pada dirinya sehingga kalian mengurungkan niat mengenalnya lebih jauh.


Sepertinya ini pernah dan kerap terjadi pada tiap pertemuan baru mengenal seseorang, ternyata memiliki moral value ataupun nilai yang berbeda sehingga perbedaan nilai ini menjadi salah satu hambatan dan bahkan menjadi red flag bagi seseorang.


Ada sebuah cerita teman saya, yang menurut saya ini harus diambil pelajarannya.

Pada suatu pertemuan saat ia akan berkencan dengan seseorang yang ia sayangi, ada suatu kejadian yang mana terdapat perbedaan nilai yang sangat penting dan nilai ini adalah nilai yang basic manner bagi keluarganya  dan bisa dibilang hal krusial, tapi ternyata tidak dimiliki oleh orang yang akan dikencani tersebut.


Misalnya kalau saya pribadi di keluarga yang sangat menjunjung tinggi krama atau kromo,  kalau bertemu dengan orang yang lebih dewasa, lebih tua ataupun sebagainya, itu harus salam/mencium tangan, harus sopan harus santun intinya lah. Bagi beberapa orang menganggap kalau nilai yang dianut keluarga saya itu berbeda dengannya, di sinilah perbedaan nilai dan red flag itu terjadi. Karena basic manner, ini sudah menjadi perbedaan nilai yang  cukup signifikan, karena perbedaan basic manner ini membuat persepsi yang berbeda antara cara orang tua, anak, dan pasangan.


Hal ini juga yang menjadi salah satu tantangan sendiri bagi tiap orang dalam menjalin pertemanan, relasi, dan sebagainya untuk memahami perbedaan moral.

Perbedaan moral ini menjadi pertanda belum adanya kecocokan, karena moral itu hal dasar yang memang sebaiknya memiliki persamaan, terutama berkaitan dengan pasangan.

 

Bagaimana mengatasi dan menjauhi seseorang setelah terindikasi adanya red flag?

Harus dipahami dulu, red flag bagimu  ini terdiri dari apa saja sih?


Kalau bagi saya pribadi memiliki beragam red flag yang berbeda antara teman yang terdekat, pasangan, itu berbeda-beda ya. Menurut saya juga kalau misalnya hal-hal basic ketimuran ( karena sebagai warga negara Indonesia yang menganut paham budaya timur) misalnya tidak tahu cara menghormati orang tua minimal salam dengan orang tua ataupun menyapa terlebih dahulu, kemudian tidak tahu bagaimana cara menghargai orang lain, tidak tahu bagaimana cara berbicara dengan orang lain yang berbeda level itu merupakan red flag cukup besar.


Kalau dalam pertemanan ini kerap terjadi dan kalian juga harus memahami hal ini, red flag yang cukup sangat besar adalah ketika orang yang menjadi temanmu terlalu banyak menceritakan keburukan orang lain, terlalu sering menggosip, pertemananmu dengannya dilandasi oleh uang (beda konteks dengan relasi bisnis), dan pertemanan yang mementingkan reputasi tinggi, tanpa adanya kenyamanan.

Seolah pertemananmu dilandasi oleh biaya dan uang. Itu cukup sangat berbahaya menurut saya, tapi itu banyak sekali terjadi di dunia pertemanan saat ini dan itu bukan hal yang baik itu merupakan red flag dan saya akan segera keluar dari lingkungan seperti itu.

 

Lingkungan pertemanan yang seperti itu sejatinya tidak sehat, jika kamu ingin keluar

yang pertama adalah kamu harus punya keberanian untuk mengurangi komunikasi intens, kamu harus punya keberanian untuk asertif dan mengatakan bahwa kamu memang kurang cocok dengan lingkungan pertemanan yang demikian.

 

Karena menurut saya red flag adalah tanda Tuhan sayang dengan hamba-Nya. Mungkin red flag itu ditunjukkan Tuhan karena kamu berdoa untuk diberikan yang terbaik dan dijauhkan dari yang buruk. Jika menyadari adanya red flag, bersyukur lah dan kabur hihi.

 

Salam sayang

Raneey

 

Menghadapi Pujian

Menghadapi Pujian

 


Pujian?

Saya selalu menganggap pujian itu sebagai wujud apresiasi atau cara orang menghargai kita yang sudah berusaha keras atau sebagai wujud kekaguman pada ciptaan Tuhan.

Kalau misalnya ada orang yang muji ya kita terima pujian itu, sambil berdoa juga. 

Misalnya saya dipuji karena tulisan,  walau terkadang merasa belum 'saatnya dipuji'  tapi tetap mengaminkan diaaaminkann pujian itu, terus berterima kasih. Semoga beneran bisa sebagus pujian yang dilontarkan tersebut.

Jika dipuji ya kita terima pujian itu, jangan kita tolak. Kalau dipuji ya nggak pernah merasa sombong atau kayak jumawa karena bagi saya pujian itu adalah hal yang biasa, hinaan juga  ya diterima karena itu hal yang biasa. Sama-sama diterima, legowo gitu loh yo wes gitu kan.

Pujian itu kadang juga membuat kita merasa jumawa? Kalau pujian itu baru kita dapatkan, mungkin, tapi kalau udah sering dipuji malah hal itu adalah hal yang biasa. 

Anggap saja pujian itu sebagai suatu hal yang biasa dan wajar kita terima ya, tapi bagi orang-orang yang tumbuh dalam ketakutan ataupun masa lalunya pernah dibully pernah dihina, pujian itu hal yang menakutkan, karena pujian itu dianggap bukanlah hal yang tulus ataupun beneran muji gitu. Inti dari semuanya adalah pola pikir kamu dan bagaimana kamu bereaksi. 

Hidup saya sekarang enak banget sejak pola pikir yang banyak berubah alhamdulillah, ga pernah membebani diri lagi dengan respon orang lain. Entah kenapa pikiran saya saat ini benar-benar nyaman dan sangat senang dengan diri ini mau dipuji, mau dihina, mau dibicarain di belakang, ya wess  itu tidak mempengaruhi kinerja saya gitu.

Jadi intinya, pola pikir. Dipuji nggak terbang, dihina ga tumbang. Kalimat sederhana, tapi kalau penerapannya butuh bertahun-tahun prosesnya.

Bagaimana denganmu? Xixi

Aku, Kamu, dan Tuhan.

Aku, Kamu, dan Tuhan.


Banyak orang saat ini mulai memperdebatkan siapa yang paling benar, agama mana yang paling benar, dan akhirnya menyalahkan satu sama lain.

Kerap kali juga merasa paling superior dibandingkan dengan orang-orang yang masih belajar agama. Padahal dasar dari agama adalah untuk kedamaian, hingga saat ini kerap adanya beragam jenis paham yang ada di sekeliling manusia.


Apa itu salah?

Belum tentu.

Apa itu benar?

Belum tentu

 

Secara saintifik saya sendiri tidak dapat membuktikannya.

Saya punya banyak teman yang ateis, teis, agnostik, dan lainnya. Kita hidup harmonis dan saling menghargai satu sama lain. Kuncinya adalah rasa saling toleransi dan juga rasa hormat tanpa saling menyalahkan. Anehnya, banyak yang saling menyalahkan dari golongan dan agama itu sendiri bukan?


Akhirnya menjadi pusing mencari mana yang paling benar.


Mungkin saya mau membahas sedikit diskusi saya dengan teman-teman yang ateis. Untuk diskusi tentu kita cenderung menginginkan jawaban yang rasional, hanya saja yang membedakan tentu iman.


Nggak  semua hal-hal dalam agama dapat dibuktikan dengan ilmiah, tapi hanya bisa diyakini dan dipercayai adanya.


Hal sederhananya adalah perkara ghaib dan segala sesuatu setelah kematian.

Seperti apa benar adanya hari akhir, apa benar adanya surga dan neraka, apa benar adanya siksa kubur, dan banyak hal lainnya yang nggak bisa dijawab dengan ilmiah.


Namun, hanya karena tidak dapat dibuktikan adanya begitu pula tidak dapat dibuktikan tidak adanya. Nah loh gimana, hahaha.

Begini, karena saya sebagai seorang teis, belum mampu membuktikan benar adanya, begitu pula para ateis yang tidak dapat membuktikan tidak adanya.

 

Karena ada dan tidaknya harus melalui riset dan pembuktian langsung bukan? Nah, kami pun belum mampu untuk membuktikan ada tidaknya,  jadi hanya bisa tertawa bersama dengan hal kami percayai masing-masing.

 

Indah bukan diskusinya? Tanpa tegang urat nadi leher, alias nggak ngotot dan ga  saling menyalahkan. Menyenangkan memang punya teman diskusi, asal masing-masing kita punya prinsip dan pemikiran yang sangat luas. Pemikiran terbuka istilahnya, saya juga menanamkan ke diri sendiri berkaitan dengan kesadaran diri.

 

Sebagai mahasiswa kedokteran, yang mempelajari tubuh dan manusia, saya jadi paham dan merasa saya sebagai manusia pun punya keterbatasan untuk tahu banyak hal, terutama berkaitan dengan diri saya. Bagaimana dasar dari segala dasar saya diciptakan. Akar mula dan benang merah saya diciptakan. Komponen dasar dari dasar saya diciptakan. Bahkan saya sendiri juga nggak bisa menjawab banyak pertanyaan yang saya tujukan ke diri saya sendiri.

 

Saya yakin kamu juga demikian. Kerap  menanyakan pertanyaan yang nggak akan bisa terjawab. Kalau pun bisa kembali muncul pertanyaan berkembang.  Memang sebagai seorang pemikir kita asyik dan nikmat sekali  memikirkan hal-hal di luar keterbatasan kita hahaha, sama kok saya juga.


Sebagai seorang perempuan muslim, saya pribadi sampai saat ini dan insyaAllah seterusnya memang tetap akan menghormati agama keturunan saya, yang setelah melalui proses pencarian pun, saya merasa terkoneksi dengan Islam. Nah, menurut saya koneksi ini sangat personal dan tidak dapat dipaksakan, ini sangat-sangat individual.


Kerap kali saya berkata pada teman saya, urusanmu dengan Tuhanmu bukan urusanku. Namun, urusanmu dalam memperlakukan manusia, bisa jadi urusanku.


Kerap terjadi terlalu mementingkan urusan dengan Tuhan sampai mengabaikan urusan dengan manusia. Harusnya kita dapat menyeimbangkan keduanya. Keseimbanganlah yang menyelamatkan. Konsep ini saya ingat saat pembelajaran fisiologi tubuh manusia yang mana adanya konsep homeostasis.  Setelah banyak hal yang saya baca, untuk terhindar dari sakit kita butuh keseimbangan, konsep homeostasis itu tadi yang bekerja dan menjadi landasannya.

Sebagai orang yang dikaruniai akal budi dan beragama, bukan kah keseimbangan juga sama pentingnya?

Sebagai seorang muslimah saja, saya kerap kali ditanya.

Kamu muslim golongan apa?

Dengan tegas saya menjawab, saya muslimah.


Jika kamu ingin bertanya golongan untuk saling menyalahkan, kamu salah  bertanya. Saya pribadi  sulit menerima semua dogma yang kerap digaungkan.  Menurut saya, Islam itu memudahkan. Karenanya Setelah saya banyak belajar, Islam itu memang benar-benar mudah.


Namun, dogma yang dikibarkan kerap hanya menguntungkan sepihak saja, oleh karena penting bagi seorang muslimah cerdas untuk terus belajar dan tidak terbohongi oleh doktrin yang keliru.  Karena saya dikaruniai akal dan budi yang membuat saya sangat kritis akan dogma yang ada, juga terus mempertanyakan doktrin-doktrin agama.


Saya pun berharap kamu demikian, menjadi seorang yang kritis berprinsip. Bukan yang fanatik, taklid buta, bahkan gampang dikompori.


Saya juga ingin menegaskan bahwa bagaimana pun kamu baik  menjadi teis, ateis, agnostik, deis, humanis, atau apapun pandangan keagamaan dan spiritual yang kamu yakini dan percaya, semuanya itu tanggung jawabmu, selama kamu tidak memaksakan kehendakmu pada orang lain, mengusik orang lain, merasa paling benar, itu sah-sah saja. 


Saya berharap kita dapat memanusiakan manusia, bukan memandang manusia berkelompok-kelompok dan mendiskriminasi satu sama lain.

 

Salam sayang

Raneey.

 


 Takut Melewatkan Kesempatan, Bener Nggak Ya?

Takut Melewatkan Kesempatan, Bener Nggak Ya?

 

Memang mungkin ada beberapa hal yang tidak datang dua kali, seperti kesempatan yang kita harus melewati seleksi dengan ketat. Kemudian penawaran yang menurut kita sangat berkelas juga kegiatan yang mungkin tahun depan kita tidak bisa ikut lagi, karena terbatas usia atau pendidikan kan, dan kegiatan itu mungkin jarang diadakan, kalaupun ada akan sangat sulit untuk tembus.


Saya melihat dulu memangnya ini kegiatan yang seperti apa, skalanya sebesar apa, energinya kira-kira sanggup nggak ya, kalau handle lagi. Nah, kalau saya sendiri tipe orang yang sangat-sangat berani menolak hal yang nggak bisa ngikutin.


Karena saya sudah kapok haha,  dulu semua yang ditawarkan saya iyain, setujuin, akhirnya drop dan kegiatan yang lainnya jadinya kacau karena terlalu memaksakan diri menerima semua hal.


Kesempatan nggak datang dua kali,  setelah dipikir-pikir sebenarnya kesempatan itu kita jemput dan bisa aja datang berkali-kali!


Jika kita punya standar, punya prioritas, punya kemampuan, kesempatannya bahkan akan datang berkali-kali walaupun kita sempat menolak dengan alasan yang logis.

Saya pernah menolak suatu kegiatan karena alasannya mungkin agak nggak masuk akal bagi orang lain, tapi bagi saya sangat masuk akal.

 Saat itu ditawari untuk menjadi pembawa acara ataupun MC, dengan tegas saya menolak, padahal menurut saya itu kelihatannya sangat bagus alasan saya menolak adalah pada saat itu Saya sedang tidak ingin untuk berbicara di depan publik, energi lagi ga prima, pikiran jadi kurang fokus kan, takutnya malah kacau gitu.


Ya itu sangat masuk akal karena saya ini manusia bukan robot. Jadi kalau misalnya setiap hari kegiatan terus nggak ada istirahatnya, bakalan drop.

Yang paling penting kalian berani  mengatakan apa yang kalian rasakan, agar orang lain mengerti. Orang lain paham kondisi kamu.

Asertif, hal ini sangat membantu kamu dalam mengungkapkan hal yang kamu rasakan, ini akan membawamu ke perasaan lega dan dihargai sebagai manusia.  Apa yang disuka, apa yang nggak suka langsung katakan dengan sopan dan hormat.

Nah, udah berani ubah pola pikir? hihi

 

 

 

Apa Pendapatmu Tentang Menyukai Seseorang Melalui Sosial Media yang Belum Pernah Bertemu Sekali Pun?

Apa Pendapatmu Tentang Menyukai Seseorang Melalui Sosial Media yang Belum Pernah Bertemu Sekali Pun?

 


Saya menjawab ini sebagai sudut pandang seorang perempuan, ini mewakili opini pribadi saja. Jawaban ini sedikit 'pedas' karena saya berusaha menjawab dengan tegas.

Mencintai ekspektasi.

Bagi saya jika kamu belum pernah bertemu sekali pun dengan orang tersebut, yang kamu sukai adalah ekspektasi kamu.

Orang tersebut yang kamu bayangkan, yang kamu inginkan, dan itu semua sesuai persepsi dan asumsi kamu.

Kamu lihat hanya dari sosial media.


Entah berapa DM di Quora dan Instagram yang masuk ke saya, ada yang confess mengatakan suka, bahkan ngajak taaruf haha.

Apa saya jatuh cinta dengan mereka?

Tidak sama sekali, orang yang saya temui di dunia nyata saja sudah bertahun-tahun belum bisa membuat saya jatuh cinta :")

Saya hanya mengikuti alur sampai sejauh mana kata suka itu dimaknai dan kata cinta itu dimaknai. Ketika terdeteksi memang 'buaya' maka saya akan mengobservasi dan mengikuti alurnya.

Loh kok saya kejam banget?

Tidak, saya hanya menyeimbangkan pemikiran dan perasaan agar meminimalisasi risiko.

Karena saya tak pernah bertatap secara nyata, walau hanya sekali.


Wine bisa ganti teh pucuk h*rum kok xixi.


Ketemu dulu baru putuskan apa berlanjut atau tidak.

Karena pertemuan itu penting! Kamu bisa merasakan, mendeteksi, menilai vibesnya.

Karena saya ga ingin ada perempuan yang menangisi laki-laki, karena keburu baper padahal tak ia ketahui secara pasti.

Saya tak ingin adanya 'cinta buta'.


Namun, akan sangat wajar kalau misalnya kamu mengagumi, menyukai akan sosok di sosial media, tapi kalau kamu jatuh cinta hanya menilai dia dari sosial media bagi saya itu bukan cinta yang sebenarnya.

Jangan berusaha meyakinkan saya akan hal ini, karena ini lah persepsi saya.

Karena menurut saya cinta yang sebenarnya itu dibangun secara perlahan dan itu tumbuh setelah adanya penerimaan kekurangan dan kelebihan dari orang yang kamu suka.


Saya percaya sebuah cinta akan muncul dari pengenalan, pertemanan terlebih dahulu. Jadi kalau misalnya ada yang pdkt nih sama saya, saya biasanya bilang kita temenan aja dulu. Terutama di dunia nyata ya.

Kalau di dunia maya, interaksi aja minim, belum pernah bertemu sama sekali udah langsung confess ke saya bilang suka, mau ngajak nikah.

Saya bingung, kok bisa yaa.

Jawabannya sesuai dengan dugaan saya 'template', sukanya dari tulisan, foto di Instagram dan bagaimana cara saya berinteraksi di sosial media.


Saya bisa memahami cara orang suka itu beda-beda, tapi bagi saya terburu-buru menyatakan suka juga kurang tepat. Saya yakin itu hanya lah rasa kagum atau penasaran yang sesaat.

Namun kalau kamu udah lebih bertahun-tahun suka dan cuma nge-chat dia doang, tanpa tindakan yang berarti untuk dia terus kamu bilang kamu cinta sama dia, effortnya mana?

Cinta itu butuh perjuangan. Jadi kalau kamu bilang kamu berjuang, tapi berjuangnya cuman di chat doang, di sosmed doang, you totally did nothing.

Bukan saya terlalu menyepelekan dan tidak menghargai, tapi saya di sini saaangaat sering dicurhatii oleh banyak perempuan yang saya kenal, baik udah menikah atau belum.

Saya ingin menegaskan kepada perempuan-perempuan, bila menggunakan sosial media harus lebih ekstra hati-hati. Saya merasa bahwa yang membaca tulisan saya kebanyakan perempuan dan jangan mudah baper terhadap laki-laki, jangan sampai patah hati lagi.


Ikuti alur boleh, tapi jangan baper. Banyak kasus yang mengenal gak di sosial media, gak di dunia nyata kebanyakan perempuan yang terus tersakiti.

Entah ternyata dijadikan pelampiasan, entah dijadikan simpanan atau hanya menjadi salah satu pemuas nafsu saja.

Saya di sini sangat berusaha tegas, agar tidak mudah jatuh dan tersakiti. Jangan percaya dengan mudah.

Jika dia mengenalmu di sosial media, ajak bertemu. Lihat aksinya, lihat effortnya. Saat pertemuan pun pastikan kamu berpikir secara jernih.

Kalau misal orang jauh, misalnya di luar pulau atau luar negeri. Lihat ada effortnya ga untuk ketemu kamu? Atau minimal effort memberimu hadiah, kejutan, atau apa pun itu.

Jika dia 'invest' kamu boleh mempertimbangkannya.

Jangan sampai sebaliknya, karena kamu keburu baper akhirnya jadi korban scam :')

Jadi lah tegas, memiliki batas, tetap pada kualitas, dan berinteraksi dengan pantas.

[PENGALAMAN] USK Leadership Camp Batch VI

[PENGALAMAN] USK Leadership Camp Batch VI

 


Postingan Sebelumnya saya pernah menulis kalau saya merupakan salah satu grantee ataupun penerimabeasiswa dari Wardah Scholarship Program yang mana di bawah naungan KSE ataupun karya Salemba empat.

Nah, di KSE ada namanya USK leadership camp yang nuansa campnya ‘semi militer’ diadakan oleh paguyuban KSE USK(Universias Syiah Kuala) dan juga Yayasan Karya Salemba Empat. Kegiatan terdiri dari beberapa hari yaitu hari Jumat, Sabtu, dan Minggu. Hari pertama dimulai dari hari Jumat, tapi sebelum hari Jumat kita sudah harus melakukan persiapan yang banyak banget untuk camp ini yang terdiri dari pakaian, atribut, kemudian hafalan mars, dan pengetahuan-pengetahuan seputar kepemimpinan lainnya.

 


Sampailah kita ke hari pertama yaitu hari Jumat, dimulai dari pukul 6 pagi kita harus berkumpul di gelanggang USK atau  gelanggang mahasiswa Universitas Syiah Kuala ini dekat dengan ICT. Nah, pada pagi hari saya diantar oleh adik saya untuk ke gelanggang. Jarak dari rumah kita itu kurang lebih 30 menit.

Jadi sebelum pukul 6 pagi kita sudah berangkat kira-kira setelah salat subuh kita udah langsung berangkat menembus pagi-pagi buta. Akhirnya sampai walaupun sepertinya saya telat deh, telat 5 menit yaa jauh bangett. Setelahnya kita menunggu untuk pemberangkatan, ini hal yang pertama banget bagi saya pribadi karena saya nggak pernah naik kendaraan yang seperti ini seperti pick upnya PMI dan kita duduk ramai-ramai di belakang  mobil pick up PMI ataupun Palang Merah Indonesia, kemudian setelahnya kita  berbaris terlebih dahulu sebelum kita lanjut ke  agenda selanjutnya. Nah kita melakukan camp ataupun pelatihan yang berlokasi di markas PMI Aceh Besar di daerah Ajun Jeumpet Provinsi Aceh.

 


Ini kali pertama bagi saya untuk berada di daerah ini, lebih tepatnya berada di markas PMI karena saya belum pernah masuk nih ke markas PMI, ternyata sangat bersih dan nyaman. Sebelum kegiatan, kita berbaris, di tengah barisan perut saya sepertinya mulai bersuara, hahaha saya langsung angkat tangan karena lapar, senang banget diberi pisang.

Karena pisang bagus untuk sarapan, bisa menunda rasa lapar yang berkepanjangan juga, dan sudah dimulai seperti semi militer nya, karena suasana mulai sangat formal.

Waktu SMA saya juga sekolah berasrama dan sistemnya seperti semi militer juga jadi ini bukan hal yang terlalu rumit. Namun, selama kegiatan ini kita tidak boleh menggunakan handphone ataupun gawai jadi kebayang dong ya semua aktivitas, kerjaan saya, semua perkuliahan. Nggak bisa kalau  handphone saya ga di tangan nihh eaa, berasa  bos besar haha, dan kebetulan saya di berbagai tempat sebagai ketuanya jadi saya agak sedikit repot jika tidak memegang handphone sehingga  saya harus izin terlebih dahulu. Kalau saat mobilisasi atau perpindahan ruangan seperti kita harus menyanyikan mars KSE USK, Mars KSE Nusantara, lagu Indonesia Raya, dan salam hormat saat ingin masuk ruangan, karena kita mendapatkan materi pelatihannya di ruang aula.

 

Saat ke ruang makan, istirahat  shalat, dan sebagainya itu benar-benar waktunya itu sangat terbatas dan waktunya itu sangat diatur seperti kita masuk ke ruang aula harus adanya salam penghormatan baris-berbaris dan juga mobilisasi menggunakan dan menyanyikan mars. Saat diberikan materi  kita harus duduk siap dan dalam posisi yang siap, tidak boleh tuh ada yang bersender tidak boleh juga ada yang mengantuk, tidak boleh ada yang berbicara satu sama lain, benar-benar harus fokus terhadap materi dan pemateri yang memberikan.

Pertama tentu adanya pembukaan oleh pihak rektorat dan juga pihak alumnii yayasan Karya Salemba Empat setelahnya kita lanjut ke materi-materi yang diberikan selama beberapa hari ini berkaitan dengan kepemimpinan, entrepreneur, Innovation, technology, kemudian materi tentang mental health ataupun kesehatan mental di masa pandemic, dan banyak hal materi-materi yang diberikan cukup bermanfaat, dan yang unik adalah ada satu materi yang cukup mengena di hati saya terkait mental health karena pada waktu itu memang keadaan mental juga tidak benar-benar stabil.

Karena kegiatannya padat banget akhirnya saya drop teman-teman semua hahaha. Iya karena kegiatan itu sampai malam hari kegiatannyaa bahkan sampai dini hari,  jam 1 hingga 2 pagi,  karena memang saya tahu betul badan saya ini tidak bisa dan tidak sanggup untuk begadang, akhirnya saya drop di hari pertama malamnya. Sampai hari ketiga baru saya bisa melanjutkan kembalikan dengan maksimal, cukup sangat seru karena kebersamaan juga banyak hal-hal yang menyenangkan.



 Saya sudah lama sekali tidak mendapatkan nuansa seperti ini, terakhir saat ikut kemah pramuka ataupun Persami dan di sekolah asrama. Hari terakhir itu diisi dengan kegiatan di lapangan Blang Padang, itu cukup menyenangkan juga karena kita beramai-ramai membawa segala persiapan barang-barang kita dari markas PMI ke Blang Padang dan hari ketiga juga hari terakhir camp, kita pulang masing-masing.

Hal yang membuat saya pusing adalah setelahnya saya UAS atau pun ujian akhir semester, tiga mata kuliah yaitu mata kuliah humaniora, mata kuliah neuromuskuloskeletal, mata kuliah riset kedokteran.  Intinya banyak banget UAS-nya sehingga setelah camp bukannya saya istirahat tapi saya harus belajar lagi, hiks realita anak kedokteran. Mungkin cukup sekian gambaran singkat tentang Leadership Camp kali ini, kalau mau tau lengkapnya join jadi beswan nyaa xixixi!


note:

Dokumentasi pribadinya hanya ada pas di Blang Padang, hiks.

Raneey