Heyraneey | Talk Less Write More
[PENGALAMAN] Duta Antinarkoba Universitas Syiah Kuala

[PENGALAMAN] Duta Antinarkoba Universitas Syiah Kuala




Halo semua akhirnya punya kesempatan lagi untuk berbagi bersama, di tengah kesibukan yang padat akhir ini. Saya mau berbagi pengalaman berkaitan dengan pemilihan Duta Antinarkoba Universitas Syiah Kuala.  Jadi sebenarnya saya ikut kompetisi ini ataupun ajang pemilihan ini karena saya mendapatkan informasi dari salah satu  teman baik saya melalui status Whatsapp-nya, ia membagikan informasi berkaitan dengan ajang ini. Saya sangat tertarik dan kemudian mendaftarkan diri.
Sumber dokumentasi : Humas USK

Awalnya saya takut tidak dapat mengikuti seleksi ini dengan  penuh dan baik, berkaitan dengan jadwal kuliah yang saat ini sedang padat di semester 6, saya juga sedang menyusun skripsi.  Entah kenapa saya selalu merasa bahwa kalau misalnya Tuhan merestui saya, maka jalan saya akan sangat mudah, dan faktanya Alhamdulillah jalan saya sangat dipermudah teman-teman.
Sumber dokumentasi : pribadi

Kenapa saya bilang dipermudah?  Setiap jadwal dari kegiatan pemilihan Duta Antinarkoba ini, jadwal seleksi  sampai karantina itu tidak ada yang benar-benar bentrok dan harus saya pilih krusial antara salah satunya. Maksudnya adalah saya bisa mengikuti kegiatan dengan baik, jadwal kegiatannya ketika saya tidak kuliah secara padat dan itu betul-betul membuat saya merasa bahwa mungkin ini adalah jalannya.

Misalnya  hal sederhananya pada saat jadwal skill lab, saya ada jadwal pada hari Selasa dari pukul 08.00 sampai pukul 10.00 dan ajang puncaknya itu dari pukul 14.00. Demikian juga seperti wawancara, tes seleksi,  tes urin, bahkan tes bakat itu dilaksanakan ketika saya tidak kuliah bahkan pernah ada seleksi bakat di hari Kamis awalnya ada jadwal praktikum di hari Kamis, tapi ternyata praktikum di hari Kamis itu batal dan saya jadi bisa ikut seleksi untuk bakat. Saya merasa bahwa ini salah satu rezeki dan kemudahan yang diberikan oleh Allah kepada saya.

 Sekarang mari kita bahas tahapan seleksi.

Seleksi Administrasi

Seleksinya itu dimulai dari seleksi administrasi, seleksi administrasi dimulai dari IPK, semester maksimalnya adalah semester 4 awalnya, tapi ternyata lagi-lagi saya dipermudah Allah, ada perubahan syarat dan semester 6 dibolehkan ikut. Saya langsung mendaftarkan diri, kemudian ada juga postur tubuh ataupun tinggi badan dan saya memenuhi kriteria untuk syarat administrasi dan dinyatakan lolos administrasi.

 Seleksi Wawancara

Tahap selanjutnya adalah tahap wawancara, wawancara yang dilakukan secara tatap muka bersama dengan dewan juri, sebelum tes wawancara itu ada tes urine lebih dahulu. Tes urine untuk memastikan apakah salah satu dari kita ada yang terindikasi menjadi pengguna narkoba dan syukurnya semua dari peserta itu tidak ada yang positif ya, berarti kita bebas dan tidak merupakan penyalahguna narkoba. 


Sumber dokumentasi : Panitia
Tentu dong harus tidak menggunakan narkoba, maksudnya tidak penyalahgunaan narkoba kan ingin menjadi Duta Antinarkoba.

 

Sumber dokumentasi : panitia

Saat wawancara, saya dihadapkan dengan seorang juri dari BNN Provinsi Aceh. Sama seperti wawancara pada umumnya, pada tahap awal kita diminta untuk perkenalan diri tapi ada request khusus saya ditanya, Apakah saya bisa berbahasa Inggris dan saya menjawab Insya Allah saya bisa,  dan saya diminta untuk mendeskripsikan diri saya dalam bahasa Inggris. Saya menjelaskan aktivitas saya sebagai mahasiswa semester 6 yang sedang menyusun skripsi dan juga seorang yang gemar menulis, juga berhasil menarik minat remaja berkaitan dengan literasi. Pertanyaannya kalau wawancara umumnya mengalir saja, apa yang saya alami, apa yang saya pahami ya itu yang saya jawab. Kalau saya nggak tahu ya saya bakal bilang nggak tahu dan saya akan berusaha untuk mencari tahu setelahnya. Kemudian ditanya juga mengenai seberapa kuat motivasi saya untuk ikut Duta Antinarkoba ini, saya menjawab dengan skala 8/10.

Alasannya  saya tidak bisa 10/10 karena yang paling utama adalah tetap pada pendidikan, karena pendidikan ini adalah tanggung jawab saya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang telah mengizinkan dan memilihkan jurusan ini kepada saya, selanjutnya tanggung jawab kepada diri saya sendiri karena sudah berkomitmen untuk mengambil pendidikan yang tidak mudah, kemudian tanggung jawab kepada keluarga saya yang telah membiayai memfasilitasi semua pendidikan saya, tanggung jawab saya juga kepada pemberi beasiswa yaitu Wardah Scholarship Program dari Paragon Corp  kepada saya, dan tanggung jawab saya  juga kepada pasien-pasien saya di masa depan.


Bagaimana kalau saya tidak belajar dengan tekun? Ya kan.
Makanya itu saya tidak bisa memberikan skala 10/10 dan itu menurut saya cukup diterima,  masuk akal.

 

Ada beberapa pertanyaan yang juga ditanyakan, tetapi saya lupa spesifiknya seperti apa karena saya merasa seperti ngobrol saja gitu dengan pewawancara. Seperti berbicara pada umumnya, kesibukan saya saat ini seperti apa, selain kuliah itu bergabung di organisasi salah satunya Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala sebagai Kepala Departemen Kajian Strategis,  setelahnya saya juga menceritakan bagaimana pengalaman saya menulis dan ada satu pertanyaan yang masih saya ingat sampai sekarang karena saya agak sulit menjawabnya waktu itu karena saya lupa materi tersebut. Padahal materi tersebut sudah pernah diajarkan sebenarnya pada saat modul penyalahgunaan Napza pada remaja itu diberikan oleh dokter spesialis kejiwaan.

Pertanyaannya adalah tentang golongan dari narkoba, harusnya jawabannya adalah golongan narkoba 1,2, dan 3. Namun, saat itu saya lupa sehingga saya jawabnya seperti jenis-jenisnya saja seperti misalnya morfin, ganja, dan lainnya karena saya lupa saat itu setelahnya saya langsung baca lagi. Oh iya, ternyata ini saya salah menjawab, saya jadi belajar lagi,  namanya juga setiap tahap hidup kita kan ada pembelajaran. Nah, di situ saya belajar. Oh ya  saya lupa akhirnya saya buka lagi, saya belajar dan review lagi. 

Pertanyaan selanjutnya adalah terkait dengan sebutkan lima tokoh pahlawan Aceh, pertanyaan yang cukup mudah bagi saya. Alasannya karena saya memang sering membaca sejarah Aceh dan menggeluti hal tersebut. Saya sebutkan seperti Cut Meutia, Cut Nyak Dien, Teuku Chik Ditiro, Laksamana keumalahayati, Teuku Chik Pante Kulu, Tengku Fakinah, dll. Mungkin teman-teman bisa membaca tulisan saya yang berkaitan dengan Hikayat Prang Sabi silakan bisa dibaca ya.

 

Ada juga pertanyaan berkaitan apa yang saya ketahui tentang Universitas Syiah Kuala

Saya menjawab tentang sejarah Universitas Syiah Kuala. Jadi ini akan sangat berkorelasi dengan jawaban saya sebelumnya berkaitan dengan pahlawan Aceh tadi, sejarah tentang Universitas Syiah Kuala. Kenapa Universitas Syiah Kuala ini berdiri, saya menjawab bahwa memang Universitas Syiah Kuala ini merupakan salah satu pelopor pendidikan di Aceh. Makanya namanya jantung hati rakyat Aceh atau Jantong Hatee Rakyat Aceh,  sejarahnya itu panjang dari Syekh Abdurrauf As-Singkili yang kerap disebut sebagai Syeikh Syiah Kuala makanya dinamakan Universitas Syiah Kuala, dari nama ulama Aceh.  Demikianlah saya menjawabnya, akan tetapi kalau misalnya orang yang tidak paham, akan berpikir bahwa Universitas ini basisnya  dari namanya itu Syiah padahal tidak demikian, itu sih yang saya ingat. Wawancara ini awalnya saya tidak berekspektasi terlalu tinggi, tapi saya berharap memang saya bisa lolos ke tahap selanjutnya dan karena Allah, saya lolos ke tahap selanjutnya.


Seleksi Bakat

Sumber dokumentasi : panitia

 Tahap selanjutnya adalah tahap Seleksi bakat, di tahap seleksi bakat awalnya saya bingung mau menampilkan bakat apa. Saya ingin menampilkan bakat menari, tapi rasanya saya sudah lama tidak menari mungkin sudah 5 tahun dan saya merasa badannya sudah kaku gitu ya untuk menari tidak selentur dulu, tidak  selentik dulu. Saya ingin menampilkan bakat menyanyi, tapi saya takutnya akan terjadi trauma akustik hahaha, alias takut terlalu melengking, karena saya merasa itu bukan bakat yang bisa ditampilkan oleh saya. 

 

Sumber dokumentasi : panitia

Akhirnya saya menampilkan bakat bercerita dengan basis public speaking kata orang sih ini keterampilan, tetapi menurut saya ini bisa menjadi salah satu bakat yang bisa diasah. Tidak hanya berbasis dari keterampilan, karena saya melihat ada juga anak kecil yang dari umur 3 tahun itu udah jago banget ngomong dan kata orang tua saya sejak saya ya SD saya sudah senang ikut kompetisi pidato, padahal dulu belum banyak yang memberikan pelatihan public speaking  jadi saya anggap saja ini bakat.

Saya tampilkan tanpa malu-malu, saya cerita-cerita saja berkaitan dengan narkoba, bagaimana pandangan saya dan saya bawa seolah sedang bercerita bersama teman-teman.  Sebelum saya tampil itu banyak sekali teman-teman yang menampilkan tarian, nyanyi, puisi, dan lainnya. Saya merasa mereka itu sudah sangat keren gitu, tapi saya berpikir lagi setiap orang itu punya keunikan masing-masing dan bakat inilah yang membuat kita unik. Apa yang kita yakini apa yang kita ingin tampilkan, tampilkan saja ya,  di luar ekspektasi saya ternyata juri mengapresiasi dengan yang saya tampilkan, mengatakan mungkin saya bisa ikut Peksiminas itu untuk cabang monolog dengan sedikit diasah lagi. Saya senang sekali dengan apresiasi juri, saya juga diminta untuk berbahasa Aceh untuk mengajak masyarakat agar tidak pakai narkoba disini saya mulai lebih senang dan percaya diri.

Alhamdulillah ternyata saya bisa masuk ke tahap selanjutnya yaitu tahap karantina.

 

 Tahap Karantina

Sumber dokumentasi : panitia

Terdapat 2 hari karantina dengan pembekalan  materi dan 1 hari kita tour ke Rumoh Harapan Aceh, Rumah Sakit Jiwa Aceh. Kita dibekali dengan materi narkoba, pencegahannya, bagaimana peran mahasiswa, public speaking, dan lainnya.  Tahapan  ini  akan diseleksi secara ketat, ada seleksi menulis paper dan juga presentasi paper juga presentasi pidato ataupun gagasan gitu, dari awal sampai akhir saya memang menekankan bagaimana pencegahan narkoba ini berkaitan dengan personal karena penyalahgunaan itu kan umumnya dari personal. Sangat  berkaitan dengan prinsip seseorang ya, di situlah yang harus kita bisa intervensi kalau misalnya salah seorang yang kita kenal ingin direhabilitasi kita bisa sama-sama membantunya untuk mau direhabilitasi, tapi ranah rehabilitasi itu bukan ranahnya mahasiswa, itulah yang catatan saya di paper.

Saya sedang memaparkan paper yang telah saya tulis, berkaitan gagasan saya yang ingin saya kembangkan.
Sumber dokumentasi : panitia
Setelah photoshoot untuk keperluan vote finalis
Sumber dokumentasi : Pribadi

 Kegiatan di karantina itu cukup menarik dan seru, sampai sore ada tahap photoshoot juga untuk seleksi yang favorit.


Sumber dokumentasi : panitia

Kunjungan  Ke Rumoh Harapan Aceh, Rumah Sakit Jiwa Aceh  itu sangat menyenangkan, kita bisa melihat langsung dan berinteraksi dengan klien ataupun orang-orang yang ingin menjadi lebih baik. Di sana kita mendapatkan akses masuk, melihat bagaimana ruangannya, bagaimana tahap prosesnya dan itu merupakan suatu kesempatan yang langka.  Lokasi rehabilitasi tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang ya. Saya pernah ke tempat rehabilitasi di Sibolangit pada tahun 2021, waktu itu ke sana saya juga tidak boleh masuk sampai ke dalam, hanya bisa di bagian tempat kunjungan tamunya untuk berinteraksi boleh, tapi tetap ada batasannya gitu. Jadi itu merupakan salah satu hal yang sangat menyenangkan untuk saya dan menjadi pengalaman baru.

Saat sesi ice breaking, bagian ini tidak mau saya ceritakan, karena permainan seperti Truth or Dare, saya mendapatkan pertanyaan yang 'luar biasa' hahaha, biar penasaran aja.
Sumber dokumentasi : panitia

 

Hal yang sangat saya sukai dari seleksi Duta Antinarkoba ini cukup transparan,  jadi di setiap tahapan itu kita diumumkan nilai yang tertinggi dan sebagainya. Karena jumlah nilainya transparan diumumkan,kita juga bisa  melihat  adanya kesesuaian antara nilai dan performa para finalis. Saya sangat mengapresiasi panitia untuk hal ini.

Saya tidak bisa menulis semua tahapan dari karantina, kita lanjut saja ke tahapan pada saat hari Puncak Penobatannya ya, 26 April 2022 di AAC Dayan Dawood Banda Aceh, karena panjang sekali kalau saya jelaskan. Saya akan tuliskan secara terpisah nantinya dan doakan selesai setelah saya ujian yaa. Kalau pada hari penobatan itu kita dipilih lima pasang yang performa sesuai dengan nilai yang tertinggi itu,  Alhamdulillah saya menjadi bagian dari 5 pasang tersebut pada saat hari penobatan itu. Kalau di atas panggung ada dua tahap seperti ada penyampaian gagasan dan juga ada pertanyaan ataupun QnA

pada umumnya.

Sesi QnA
Sumber dokumentasi : panitia

 

Kalau penyampaian gagasan sejak awal  saya konsisten mengatakan bahwa pendekatan untuk mencegah penyalahgunaan narkoba itu adalah secara personal jadi gagasan saya adalah saya berusaha untuk mengajak teman-teman semua secara personal untuk memahami dan memiliki prinsip tersebut. Karena ini berkaitan dengan prinsip, maka harus dilakukan secara kontinu dan itu yang saya tekankan di gagasan.

Kemudian tanya jawab, saya senang kalau adrenalin saya itu dipacu, pertanyaannya itu sepasang tapi penilaian itu berbeda, saya mendapatkan pertanyaan berkaitan,  budaya seperti apa di remaja yang harus dikembangkan agar terhindar dari narkoba?

Jawaban saya budaya yang berprinsip dan bermoral dengan berlandaskan nilai-nilai agama,  karena nilai agama itu menjadi hal yang krusial yang yang mencakup prinsip. Jawaban spontan yang memang langsung saya kemukakan.

 

Penyematan selempang oleh Rektor USK Prof. Marwan
Sumber dokumentasi : panitia
Sumber dokumentasi : panitia
Sumber dokumentasi : pribadi

Saat pengumuman saya lumayan deg-degan sih. Alhamdulillah nama saya sebagai juara pertama Alhamdulillahirabbalalamin. Semoga saya bisa amanah, semoga bisa menjadi contoh yang baik dan bisa ikut terlibat baik juga dengan berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh BNN dan juga Universitas Syiah Kuala, saya berkomitmen untuk bersama-sama kita cegah penyalahgunaan narkoba.

Melalui tulisan ini saya berharap teman-teman dapat melihat ataupun memahami bagaimana nilai (value) yang ingin saya sebarkan. Saya tidak bisa bekerja sendirian, kita juga tidak bisa bekerja sendirian. Kita harus memahami bahwa ada masa depan anak-anak kita yang harus kita jaga, kalau misalnya saat ini penyalahgunaan narkoba itu angkanya tinggi maka kemungkinan di masa depan generasi kita akan cukup sangat sulit untuk menjadi generasi yang cerdas, karena dirusak sarafnya oleh penyalahgunaan narkoba tadi, saya sangat konsen di hal ini.

Sumber dokumentasi : Humas USK
Semoga  kita memiliki kepedulian yang tinggi terhadap sesama untuk sama-sama kita mencegah penyalahgunaan narkoba demi masa depan yang lebih cerdas dan baik. 


Salam sayang

Raneey

Bijak Menjaga Privasi di Sosial Media

Bijak Menjaga Privasi di Sosial Media

  


Hari ini saya mau cerita tentang publikasi di sosial media.

Mungkin ini bisa menjadi curcol ataupun hal singkat yang ingin saya bagikan kepada teman-teman semua.


Terkadang kebanyakan orang menilai kehidupan seseorang berdasar dari sosial medianya dan saya rasa itu itu tidak sepenuhnya benar. Saya sangat memahami dan yakin bahwa seseorang berada di sosial media ini punya purpose  atau tujuan. Tujuannya bisa beragam entah itu tujuan baik atau tujuan tidak baik, ya itu bergantung kepada pengguna sosial medianya.

Di sosial media itu tidak akurat sama sekali untuk menilai keseluruhan hidup seseorang ataupun progres kehidupan seseorang.  Seseorang membagikan sesuatu ke sosial media itu biasanya sudah melalui proses moderasi. Atau sudah dipilih-pilih dulu, biasanya.

Sesuatu  yang dibagikan itu benar-benar sesuai dengan tujuannya dong. Terkadang saya  berpikir bahwa tidak membagikan suatu progres kita yang besar kepada sosial media itu merupakan salah satu pilihan yang bijak. Hal ini terbukti, saya tidak membagikan progres saya yang besar ke sosial media, hasilnya jauh lebih baik.

 Benar, ada kalanya kita harus membagikan hal  yang kita lakukan kepada sosial media karena kita memiliki tanggung jawab untuk membagikan hal tersebut. Misalnya kita pernah melakukan open donasi secara publik, jadi memang bertanggung jawab secara publik untuk membagikan progresnya gitu.  Sama halnya dengan kegiatan yang bisa membangun personal branding itu sangat baik untuk dibagikan di sosial media.

Namun, saya rasa saat ini orang-orang kerap kali membagikan kehidupan pribadinya atau hal-hal yang seharusnya tidak boleh dibagikan di sosial media, entah itu dengan fitur close friend atau tidak. Saya rasa itu tindakan yang kurang bijak, karena jejak digital itu tidak bisa hilang. Akan berbeda jika kita membuat sebuah akun khusus yang tidak ada siapapun di akun tersebut dan menjadikan akun tersebut sebagai arsip pribadi, ya itu silakan.

 Namun, sosial media itu penuh risiko. Risikonya adalah jika akun tersebut di-hack diambil alih oleh orang yang tidak bertanggung jawab dan digunakan untuk kejahatan, akan sangat berisiko tentunya.

 Saya rasa pentingnya kita harus memahami bagaimana safeguarding ataupun manajemen perlindungan diri ketika berada di sosial media. Safeguarding di sosial media itu itu sangat penting, hal tersebut  bisa menyelamatkan kita dari hal-hal yang tidak diinginkan ketika berada di sosial media. Hal yang penting adalah memoderasi unggahan yang dapat diunggah atau  tidak.

 Jangan  pernah mengunggah alamat pribadi, data pribadi, kehidupan yang menjadi privasi. Saya rasa yang tidak boleh dibagikan ialah permasalahan pribadi seperti hal-hal yang bukan untuk konsumsi publik. Hal tersebut benar-benar tidak layak untuk diunggah di sosial media. Salah satu cara yang sangat bijak menurut saya untuk menjaga privasi adalah dengan tidak mengunggah sama sekali, hehe. Banyak sekali orang-orang yang berada di sosial media itu tujuannya terkadang mencari mangsa ataupun menghancurkan hidup orang lain. Agar hidup kita tidak dikacaukan oleh orang lain maka jangan pernah tunjukkan bagian dari diri kita yang berpotensi mengganggu kehidupan kita.

 Hal  apa sih yang bisa diunggah di sosial media?

Menurut saya  yang dapat kita unggah di sosial media adalah hal-hal yang tidak menimbulkan memicu sebuah kejahatan. Memang dan tentu kejahatan itu tergantung dari si pemilik niat tadi, akan tetapi kita dapat mencegah untuk tidak menjadi target kejahatan dengan cara tidak mempertontonkan hal yang saya sebutkan di atas.

Boleh nggak menceritakan pengalaman?

Tentu boleh sekali, tapi perhatikan kalimat-kalimat dan informasi-informasi yang dibagikan. Pengalaman seperti apa yang dapat dibagikan, tentu yang tidak menjadi bumerang  bagi kita nantinya. Tujuannya  awal untuk berbagi malah kita terkena somasi, ribet kan?

Hal paling bijak ya tidak semua hal  diunggah di sosial media. Jika ada orang yang menilai kita tidak melakukan apa-apa hanya karena tidak memunggah di sosial media, ya itu bukan menjadi urusan kita kan?

Salah jika kita  menilai seseorang dari sosial media, karena banyak orang-orang yang hebat malah tidak mengunggah apapun di sosial media. Dengan  tetap terus berproses, terus bermanfaat bagi sesama dan saya yakin kamu juga bisa bijak untuk terus merasa aman berada di sosial media. Hal yang lebih baik lagi adalah kita sama-sama menciptakan ruang aman di sosial media.

 

 


Pentingnya Sex Education Bagi Anak

Pentingnya Sex Education Bagi Anak

[PENGALAMAN] Belajar Bersama Girls Leadership Academy By Plan Indonesia

[PENGALAMAN] Belajar Bersama Girls Leadership Academy By Plan Indonesia

 

Saya sendiri nggak menyangka saya bisa menjadi bagian dari Girls Leadership Academy Batch 2 dengan tema Girls Unlimited: Breaking Gender Norms. 

Awalnya saya mendaftar dan saya ragu apakah saya bisa terpilih, tapi ternyata saya bersama dengan 49 perempuan lainnya lulus ya. Angkatan ini terdapat 50 orang perempuan dari beragam latar belakang dan dari beragam daerah. Sejak terpilih saya makin percaya untuk tidak mengerdilkan impian diri sendiri, dan harus percaya diri.



Di sini kita belajar bagaimana dan memahami tentang norma gender yang ada di masyarakat, selain itu terdapat  kelas yang diberikan materi oleh pemateri yang hebat dan keren-keren banget.  Selain kelas, kita juga terdapat sesi mentoring di setiap sela kelasnya. Selain mentoring juga terdapat webinar pembuka dan penutup rangkaian acara.



Salah satu rangkaian acaranya yang saya highlight banget ya itu dari dokter Debryna Dewi, sebelumnya saya  sudah pernah membaca profil beliau, beliau seorang dokter dan  juga seorang aktivis yang gemar meneliti.

Sudah kagum duluan nih dengan beliau akhirnya berkesempatan untuk berada di suatu ruang meeting yang sama. Bersyukur banget, saya juga termotivasi oleh beliau. Saya pun mengirimi beliau DM Instagram, beliau membalasnya. Dokter Debryna menceritakan bagaimana pengalaman beliau saat mendobrak norma gender yang ada. Beliau juga menceritakan salah satu pengalaman beliau berkaitan tentang sunat perempuan.


Seperti yang kita ketahui, sunat perempuan itu saat ini sudah dianggap kekerasan. Namun, masih dilakukan karena budaya yang ada di masyarakat, saya pribadi masih bingung bagaimana hukum untuk melakukan sunat perempuan karena terdapat perbedaan sudut pandang antara budaya, agama, dan juga hukum yang berlaku. 


Selain dokter Debryna ada satu materi lagi yang sangat saya highlight, pemaparan Kak Dwi Yuliawati Faiz dari UN women Indonesia.


Beliau juga menceritakan bagaimana dampak dari pandemi terhadap perempuan, menurut data yang beliau paparkan eksistensi perempuan  sedikit lebih memburuk dibandingkan sebelumnya, bahkan banyak kasus kekerasan berbasis gender online ataupun KBGO yang dialami oleh perempuan. Ada satu hal juga yang membuat saya berpikir keras, tentang ibu rumah tangga.


Pertanyaan  ini membuat saya berpikir dan terus berpikir, pertanyaannya sederhana ibu rumah tangga itu termasuk pekerjaan atau termasuk tanggung jawab?


Pernah ada riset di luar negeri yang menyebutkan bahwa jika seorang ibu rumah tangga itu dibayar maka gaji itu cukup sangat besar dengan jam kerja dan tupoksi pekerjaan yang berat. Namun, di sini ibu rumah tangga tiidak dibayar secara materi. Terdapat perbedaan pendapat antara kita, saya pribadi ikut dan  masih terus berpikir cukup keras dengan pertanyaan itu.


Sepertinya  sekarang saya bisa menemukan jawabannya, yaitu ibu rumah tangga bukan keduanya


Nah loh? Gimana tuh?


Ibu rumah tangga bukan tanggung jawab dan juga bukan pekerjaan.


Mari saya ceritakan kenapa saya mengatakan hal ini.


Ibu rumah tangga bukan suatu pekerjaan rumah tangga dan ranah domestik itu setelah menikah adalah tanggung jawab kedua belah pihak, tanggung jawab suami dan tanggung jawab istri yang berada di rumah tangga tersebut. Keduanya memiliki peranan penting dalam menjalankan tugas-tugas di rumah tangga, oleh karenanya menyerahkan salah satu tupoksi kerja rumah tangga hanya bagi dan terhadap satu pihak saja itu saya rasa bukanlah suatu keputusan yang tepat.


Karena suami istri itu harusnya bekerja sama untuk mewujudkan suatu keluarga yang sesuai dengan visi dan misinya masing-masing.

Begitu pula ibu rumah tangga bukan suatu pekerjaan karena saya berpikir bahwa suatu pekerjaan itu harus dibayar. Okey, ini realistis bukan? Suatu pekerjaan iu harusnya diberi honor baik itu dengan uang atau materi yang lainnya, namanya juga bekerja.


Akan sangat berbeda dengan yang namanya bekerja tidak dibayar, itu namanya bukan bekerja sih volunteering ataupun relawan, menurut saya.


Terdapat perbedaan kan keduanya. Oleh karenanya, menurut saya ibu rumah tangga pun sematannya bukan ibu rumah tangga, tapi seorang ibu. Alih-alih menambahkan rumah tangga di belakang kata ibu, lebih baik tidak membatasi seorang ibu hanya di rumah tangga. Karena seorang ibu juga bisa melakukan banyak hal yang lainnya.


Cukup masuk akal bukan.


Setiap hal yang dilakukan di rumah tangga, itu tanggung jawab kedua belah pihak, bukan hanya tanggung jawab ibu atau pun ayah saja, tapi tanggung jawab ayah dan ibu, suami dan istri. Jadi pekerjaan rumah tangga pun harusnya tidak tabu untuk dilakukan oleh laki-laki  dan perempuan.


Begitu juga boleh seorang perempuan untuk bekerja dan mengekspresikan dirinya. Selama terdapat hal yang sinergis di suatu rumah tangga, mampu bekerja sama, dan tidak ada ketimpangan itu adalah hal yang perfect.



Hal lainnya yang sangat rasa bagi diri saya di Girls Leadership Academy Batch 2 dengan tema Girls Unlimited: Breaking Gender Norms adalah adanya sister hood, itu saling menghargai satu sama lain dan saling mendukung satu sama lain. Ini sangat terasa, seperti saat ada yang mengungkapkan pendapatnya maka tidak ada yang merendahkan pendapat,  jika ada perbedaan pendapat maka diselesaikan dengan cara elegann, yang baik dan dewasa. Perbedaan diantara kita, tidak menghalangi kita memiliki ruang aman dan juga menghargai privasi masing-masing.


Di sini bertemu perempuan muda yang memiliki visi misi yang searah salah satunya  orang yang bermanfaat bagi kehidupan. Kita juga sempat mengungkapkan cita-cita masing-masing di antara kita. Ada yang ingin menjadi menteri, menjadi diplomat, menjadi pemilik kebun organik, menjadi orang hebat dan memiliki tujuan akan hidupnya.


Saya juga merasa diapresiasi dan dihargai selama berada di sini. Hal yang sangat saya senangi juga kita disediakan psikolog jika misalnya pada saat kegiatan kita membutuhkan layanan bantuan. Di tiap materi juga mungkin akan ada suatu materi yang membangkitkan trauma bagi para peserta dan kita sangat diizinkan untuk take a deep breath terlebih dahulu atau boleh untuk tidak melanjutkan materi.


Karenanya kita merasa sangat dihargai sebagai seorang manusia di sini. Begitu pula ketika posting di sosial media, ini yang sangat berbeda juga. Setiap postingan kita yang akan direpost oleh pihak penyelenggara, selalu meminta izin kepada untuk repost itu hal yang sangat bagus sih menurut saya.


Selama menjadi bagian dari Girls Leadership Academy Batch 2 dengan tema Girls Unlimited: Breaking Gender Norms kita juga ikut kampanye melalui aplikasi campaign.com di aplikasinya kita juga akan membuat konten yang akan diunggah secara berkala di akun Instagram @GLAIndonesia.




Semoga dengan keikutsertaan saya di Girls Leadership Academy Batch 2 dengan tema Girls Unlimited: Breaking Gender Norms ini membuat semakin banyak wawasan yang didapatkan dan semakin besar impact saya ke lingkungan, saya terus berharap akan banyak perempuan-perempuan yang berani untuk menyuarakan pendapatnya. Perempuan yang berani untuk bermimpi, berani untuk meraih pendidikan yang lebih tinggi.

Bisa baca tulisan saya tentang bagaimana cara lolos Girls Leadership Academy Batch 2 dengan tema Girls Unlimited: Breaking Gender Norms.


Semoga saya kamu dan kita semua bisa menjadi orang yang bermanfaat dan juga berani untuk bermimpi tinggi.

 


Salam sayang.

Raneey