√ Bagaimana Cara Bersikap Terhadap Para Difabel Agar Tidak Terjebak Dalam Ableisme? - Heyraneey | Talk Less Write More

Bagaimana Cara Bersikap Terhadap Para Difabel Agar Tidak Terjebak Dalam Ableisme?



Semoga bisa bermanfaat dan tidak menyinggung siapa pun, saya hanya ingin berbagi sedikit ilmu yang saya dapatkan di talk show yang saya tulis dengan cara saya sendiri. Kalau ada salah mohon diingatkan dengan baik, karena saya masih mahasiswa, masih sangat awam akan pengalaman dan ilmu.

Mungkin ini ga menjawab secara keseluruhan, tapi ya sedikit membahas lah. Semoga sedikit menjawab hehe


Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas menyatakan bahwa :

Penyandang Disabilitas adalah setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga negara lainnya berdasarkan kesamaan hak

Siapa saja yang termasuk disabilitas atau difabel?

Disabilitas sendiri sejauh ini terdiri dari 5 kategori

Lima kategori tersebut antara lain:

1. Disabilitas fisik, yang mana mencakup amputasi, lumpuh layu, paraplegi, cerebral palsy, stroke, kusta, dan orang kecil seperti dwarfism atau seckel syndrome dan lainnya.

2. Disabilitas intelektual, yang mana mencakup termasuk lambat belajar, grahita, down syndrome, dan lainnya.

3. Disabilitas mental yang mana mencakup skizofrenia, bipolar, depresi, anxietas, gangguan kepribadian, autis, hiperaktif, dan lainnya.

4. Disabilitas sensorik yang mana mencakup mencakup tunanetra, tuli, tunawicara, rungu wicara, dan lainnya.

5. Disabilitas ganda atau multi, disabilitas multi atau ganda merupakan dua disabilitas atau lebih yang disandang oleh satu orang


Ableism adalah istilah yang kerap dikaitkan dengan fenomena sosial yang menggambarkan sikap diskriminatif dan kekeliruan cara pandang serta prasangka terhadap seorang penyandang disabilitas atau difabel.

Sikap yang seolah membenarkan tindakan diskriminasi terhadap teman-teman difabel, dijadikan lelucon.

Masih ingat, “Ga tau males, mau beli truk?”

Itu menjadi contoh dari bukti nyata bahwa banyak dari kita masih menganggap disabilitas sebagai sesuatu yang pantas ditertawakan.


Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.

Sudah mencakup segala pemenuhan hak para difabel, tetapi kenyataannya?

Banyak dari kita masih “terkungkung” stigma akan teman-teman difabel.

Ableism menciptakan invisible barriers bagi penyandang disabilitas untuk terlibat secara penuh dalam komunitas (World Health Organization/ WHO, 2001)


Hal apa yang bisa mencegah kita dari ableism?


Saya senang sekali bisa diberikan kesempatan untuk bisa berbincang dengan Kak Erlina Marlinda, merupakan salah seorang Program Manager di Children and Youth Disabilities for Change (CYDC).
Saya mulai memahami dan semakin menyadari bahwa isu-isu ini kerap terabaikan dan tidak terealisasikan secara nyata.


T I B I A - H U M A N R I G H T S D A Y 2 0 2 0

Teman-teman bisa lihat full, live Instagram Cimsaunsyiah bersama Kak Erlina Marlinda.

Di link di atas ya.


Oleh karena itu, jangan hanya karena fisiknya berbeda kita menganggap orang-orang difabel tidak bisa melakukan apapun. Berikan kepercayaan kepada teman-teman difabel untuk melakukan sesuatu, sesuai dengan kemampuannya. Karena kita semua pasti sudah paham apa saja kemampuan yang bisa dilakukan.

Jika teman-teman difabel tidak mampu melakukan suatu hal, pasti akan meminta tolong pada orang lain. Karena ketidakpercayaan itu merupakan salah satu bentuk diskriminasi terhadap teman-teman difabel.


if a difable person says they can do something, believe them!

People know their own abilities and limitations.


Terima kasih buat teman-teman sudah follow Instagram juga bergabung di live Instagram ya 🤍

Get notifications from this blog

Halo! Terima kasih sudah membaca.