√ Di Antara Jas Putih dan Mahkota: Dedikasi Tanpa Batas dari Aceh hingga Panggung Nasional - Heyraneey | Sharing is caring

Di Antara Jas Putih dan Mahkota: Dedikasi Tanpa Batas dari Aceh hingga Panggung Nasional



Bagi banyak orang, dunia medis dan panggung beauty pageant adalah dua kutub yang saling bertolak belakang. Yang satu menuntut ketelitian klinis di bawah lampu ruang operasi yang terang benderang, sementara yang lain menuntut keanggunan paripurna di bawah sorot lampu kamera dan tepuk tangan penonton. Namun, bagi saya, keduanya adalah panggung pengabdian yang sama-sama membutuhkan hati, dedikasi, dan tujuan yang kuat.

Ini adalah kisah tentang bagaimana saya merajut dua dunia tersebut: sebagai seorang dokter dari Tanah Rencong, Aceh, yang mengejar renjana di bidang bedah, sekaligus berdiri membawa nama daerah di panggung kecantikan nasional.

Cita-Cita yang Dipertanyakan: Mengapa Harus Keduanya?

Saya selalu memiliki ketertarikan yang mendalam pada ilmu bedah, khususnya urologi. Ada kepuasan tersendiri yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata ketika kita bisa melihat sebuah masalah medis, melakukan intervensi langsung, dan memulihkan kualitas hidup pasien. Ketelitian, kedisiplinan, dan ketegasan dalam mengambil keputusan di ruang operasi adalah hal-hal yang membentuk karakter saya.

Suatu hari, dalam sebuah sesi wawancara, saya sempat ditanya secara tajam mengenai cita-cita. "Sebagai seorang dokter yang bercita-cita menjadi ahli bedah, mengapa Anda repot-repot terjun ke dunia beauty pageant?"

Pertanyaan itu wajar, mengingat stereotip yang sering memisahkan intelektualitas medis dengan industri kecantikan. Jawaban saya saat itu sederhana namun menjadi prinsip hidup saya: seorang perempuan tidak perlu memilih hanya satu identitas jika ia mampu memikul keduanya. Panggung kecantikan bukanlah sekadar tentang fisik, melainkan tentang platform. Jika ruang operasi memungkinkan saya menyembuhkan puluhan pasien dalam sehari, maka panggung nasional memberi saya pengeras suara untuk mengedukasi dan menginspirasi ribuan orang di saat yang bersamaan.

Panggung Perjuangan: Menyeimbangkan UKMPPD dan Jembatan Aceh–Jakarta

Memutuskan untuk maju membawa nama Aceh bukanlah keputusan yang diambil dalam semalam. Panggung perjuangan saya dimulai jauh sebelum malam final televisi. Fase yang paling menguras air mata dan tenaga adalah ketika saya harus membagi waktu antara persiapan Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD)gerbang akhir dan paling krusial untuk mendapatkan gelar dokter dengan jadwal karantina serta persiapan pageant.

Waktu berjalan dengan kecepatan ganda. Pagi hari saya dihadapkan pada setumpuk buku textbook medis, latihan soal try out, dan clinical skills lab. Namun begitu sore tiba, saya harus segera berganti pakaian, memasukkan heels ke dalam tas, dan mengejar jadwal penerbangan dari Aceh ke Jakarta.

Pesawat sering kali menjadi ruang belajar pribadi saya. Di atas ketinggian puluhan ribu kaki, sementara penumpang lain beristirahat, saya masih menghafal dosis obat dan algoritma penanganan trauma. Begitu mendarat di Jakarta, kelelahan itu harus segera disembunyikan di balik senyum yang profesional. Manajemen waktu, daya tahan fisik, dan ketahanan mental diuji hingga ke batas maksimal. Keduanya memiliki taruhan yang tinggi: kelulusan profesi saya dan nama baik daerah yang saya wakili.

Transformasi Diri: Dari Scrubs Medis ke Catwalk

Persiapan modelling adalah tantangan adaptasi yang sama sekali berbeda. Di rumah sakit, saya terbiasa bergerak cepat dengan sepatu sneakers atau clogs yang nyaman, menggunakan pakaian scrubs yang longgar. Tiba-tiba, saya harus belajar berjalan dengan anggun di atas sepatu hak tinggi 15 sentimeter, menjaga postur tubuh agar tetap proporsional, dan memahami sudut terbaik di depan lensa kamera.

Bukan hanya sekadar berjalan, modelling dan persiapan tampil di televisi nasional menuntut koreografi, public speakingyang terstruktur, dan kemampuan untuk berpikir cepat di bawah tekanan. Menariknya, saya menemukan bahwa mentalitas yang saya bangun selama jaga malam di IGD sangat membantu. Di IGD, saya dituntut untuk tetap tenang saat menghadapi kondisi gawat darurat. Di atas panggung televisi yang disiarkan langsung—dengan jutaan pasang mata mengawasi setiap langkah dan ucapan ketenangan emosional ( composure ) yang sama-sama saya butuhkan.

Beauty with a Purpose: Muara dari Dua Perjalanan

Ketika malam puncak tiba dan saya melangkah di atas panggung dengan selempang nama Aceh menyilang di dada, segala rasa lelah akibat penerbangan yang tak terhitung jumlahnya, malam-malam kurang tidur demi UKMPPD, dan sesi latihan yang menguras keringat seolah menguap.

Namun, esensi sejati dari perjalanan ini bukanlah tentang mahkota atau tepuk tangan, melainkan tentang Beauty with a Purpose. Sebagai seorang dokter, sumpah yang saya ucapkan adalah bentuk pengabdian tertinggi kepada kemanusiaan. Di panggung ini, purpose atau tujuan tersebut mendapatkan dimensi baru. Advokasi tentang kesehatan masyarakat, akses fasilitas medis di daerah, serta pemberdayaan perempuan menjadi jauh lebih terdengar.

Melihat ke belakang, saya menyadari bahwa pisau bedah dan panggung pageant telah mengajarkan saya hal yang sama: tentang bagaimana kita menggunakan apa yang ada di tangan kita untuk membawa perubahan yang bermakna bagi orang lain. Dan kini, dengan persiapan yang matang untuk melangkah ke jenjang pendidikan spesialis, saya membawa seluruh pelajaran dari panggung gemerlap tersebut kembali ke dunia medis yang selalu saya cintai.

Get notifications from this blog

Halo! Terima kasih sudah membaca.