√ Garis Waktu yang Berujung Sumpah: Perjalanan Menjadi Dokter di USK - Heyraneey | Sharing is caring

Garis Waktu yang Berujung Sumpah: Perjalanan Menjadi Dokter di USK

 


Akhirnya, hari ini tiba. Berdiri tegak di ruangan yang khidmat ini, mengucap Sumpah Dokter di Universitas Syiah Kuala (USK), rasanya seperti sebuah mimpi panjang yang perlahan mewujud menjadi nyata. Dua huruf, "dr.", kini resmi membersamai nama ini. Sebuah pencapaian yang jika saya lihat  ke belakang, menuntut harga yang tidak main-main.


Ingatan saya otomatis terlempar ke tahun 2019. Tahun yang rasanya begitu berat, penuh dengan keraguan dan persimpangan. Saya sedang menempuh pendidikan di MIPA Informatika Universitas Syiah Kuala, dengan biaya penuh dari sebuah bank.

Saat itu, saya mengambil keputusan yang bagi sebagian orang mungkin terdengar nekat, memutar haluan ke dunia medis. 


Dengan tekad yang entah datang dari mana, saya bertarung di UTBK. Tanpa bimbingan belajar, hanya bermodalkan buku-buku latihan soal yang menggunung dan doa yang tak putus-putus. Tujuannya saat itu hanya satu: Fakultas Kedokteran USK. Dan alhamdulillah, semesta memberikan restunya.


Namun, lolos seleksi barulah halaman pertama dari babak belur yang sesungguhnya. Euforia mahasiswa baru seketika dihempas oleh pandemi. Masa-masa yang seharusnya dihabiskan untuk berinteraksi dan belajar anatomi langsung di kampus, harus dipaksa pindah ke balik layar. Perjuangan kuliah online dimulai. Menjalani praktikum virtual dan ujian online kedokteran itu rasanya luar biasa menegangkan. Ada rasa deg-degan yang konstan setiap kali menatap layar, berusaha keras menyerap ilmu-ilmu kompleks di tengah segala keterbatasan situasi saat itu.


Saya ingat betul bagaimana ritme belajar seolah menjadi rutinitas tanpa jeda. Belajar, belajar, dan terus belajar. Namun ironisnya, sekeras apa pun saya membaca, saya selalu dihantui oleh rasa tidak cukup. Imposter syndrome itu nyata. Apakah saya sudah belajar dengan benar? Apakah ilmu yang saya cicil lewat layar ini cukup untuk merawat pasien nanti? Perasaan "tidak pernah cukup pintar" itu sering kali menjadi teman setia di malam-malam begadang yang panjang dan sepi.


Lalu, tibalah masa klinis. Masa koas. Jika preklinik menghajar mental, koas menghajar fisik dan mental sekaligus. Setiap hari adalah siklus lelah yang seolah tiada akhir. Berpindah dari satu stase ke stase lain, jadwal jaga malam yang membuat jam tidur menjadi sebuah kemewahan, tumpukan follow-up pasien, hingga tekanan di ruang operasi dan bangsal. Lelahnya benar-benar meresap sampai ke tulang. Tidak jarang rasanya ingin duduk diam saja di pojok lorong rumah sakit, sekadar mengambil napas karena merasa sudah tidak sanggup lagi.


Tapi hari ini, semua peluh, air mata, rasa insecure, dan kelelahan ekstrem itu terbayar lunas. Lantunan Sumpah Dokter yang baru saja saya ucapkan adalah pelukan hangat untuk diri saya di tahun 2019 yang sedang kebingungan belajar UTBK sendirian. Ia adalah jawaban untuk mahasiswa yang deg-degan ujian online, dan balasan untuk dokter muda yang kelelahan kurang tidur di rumah sakit.


Perjalanan melelahkan ini akhirnya membawa saya ke garis finis, hanya untuk mengantarkan saya ke garis start yang baru. Terima kasih untuk diri sendiri yang menolak untuk menyerah, meski sering kali merasa tidak cukup.


Hari ini, saya resmi menjadi seorang dokter. 


Mari memulai pengabdian ini.

Get notifications from this blog

Halo! Terima kasih sudah membaca.