√ Aku, Kamu, dan Tuhan. - Heyraneey | Talk Less Write More

Aku, Kamu, dan Tuhan.


Banyak orang saat ini mulai memperdebatkan siapa yang paling benar, agama mana yang paling benar, dan akhirnya menyalahkan satu sama lain.

Kerap kali juga merasa paling superior dibandingkan dengan orang-orang yang masih belajar agama. Padahal dasar dari agama adalah untuk kedamaian, hingga saat ini kerap adanya beragam jenis paham yang ada di sekeliling manusia.


Apa itu salah?

Belum tentu.

Apa itu benar?

Belum tentu

 

Secara saintifik saya sendiri tidak dapat membuktikannya.

Saya punya banyak teman yang ateis, teis, agnostik, dan lainnya. Kita hidup harmonis dan saling menghargai satu sama lain. Kuncinya adalah rasa saling toleransi dan juga rasa hormat tanpa saling menyalahkan. Anehnya, banyak yang saling menyalahkan dari golongan dan agama itu sendiri bukan?


Akhirnya menjadi pusing mencari mana yang paling benar.


Mungkin saya mau membahas sedikit diskusi saya dengan teman-teman yang ateis. Untuk diskusi tentu kita cenderung menginginkan jawaban yang rasional, hanya saja yang membedakan tentu iman.


Nggak  semua hal-hal dalam agama dapat dibuktikan dengan ilmiah, tapi hanya bisa diyakini dan dipercayai adanya.


Hal sederhananya adalah perkara ghaib dan segala sesuatu setelah kematian.

Seperti apa benar adanya hari akhir, apa benar adanya surga dan neraka, apa benar adanya siksa kubur, dan banyak hal lainnya yang nggak bisa dijawab dengan ilmiah.


Namun, hanya karena tidak dapat dibuktikan adanya begitu pula tidak dapat dibuktikan tidak adanya. Nah loh gimana, hahaha.

Begini, karena saya sebagai seorang teis, belum mampu membuktikan benar adanya, begitu pula para ateis yang tidak dapat membuktikan tidak adanya.

 

Karena ada dan tidaknya harus melalui riset dan pembuktian langsung bukan? Nah, kami pun belum mampu untuk membuktikan ada tidaknya,  jadi hanya bisa tertawa bersama dengan hal kami percayai masing-masing.

 

Indah bukan diskusinya? Tanpa tegang urat nadi leher, alias nggak ngotot dan ga  saling menyalahkan. Menyenangkan memang punya teman diskusi, asal masing-masing kita punya prinsip dan pemikiran yang sangat luas. Pemikiran terbuka istilahnya, saya juga menanamkan ke diri sendiri berkaitan dengan kesadaran diri.

 

Sebagai mahasiswa kedokteran, yang mempelajari tubuh dan manusia, saya jadi paham dan merasa saya sebagai manusia pun punya keterbatasan untuk tahu banyak hal, terutama berkaitan dengan diri saya. Bagaimana dasar dari segala dasar saya diciptakan. Akar mula dan benang merah saya diciptakan. Komponen dasar dari dasar saya diciptakan. Bahkan saya sendiri juga nggak bisa menjawab banyak pertanyaan yang saya tujukan ke diri saya sendiri.

 

Saya yakin kamu juga demikian. Kerap  menanyakan pertanyaan yang nggak akan bisa terjawab. Kalau pun bisa kembali muncul pertanyaan berkembang.  Memang sebagai seorang pemikir kita asyik dan nikmat sekali  memikirkan hal-hal di luar keterbatasan kita hahaha, sama kok saya juga.


Sebagai seorang perempuan muslim, saya pribadi sampai saat ini dan insyaAllah seterusnya memang tetap akan menghormati agama keturunan saya, yang setelah melalui proses pencarian pun, saya merasa terkoneksi dengan Islam. Nah, menurut saya koneksi ini sangat personal dan tidak dapat dipaksakan, ini sangat-sangat individual.


Kerap kali saya berkata pada teman saya, urusanmu dengan Tuhanmu bukan urusanku. Namun, urusanmu dalam memperlakukan manusia, bisa jadi urusanku.


Kerap terjadi terlalu mementingkan urusan dengan Tuhan sampai mengabaikan urusan dengan manusia. Harusnya kita dapat menyeimbangkan keduanya. Keseimbanganlah yang menyelamatkan. Konsep ini saya ingat saat pembelajaran fisiologi tubuh manusia yang mana adanya konsep homeostasis.  Setelah banyak hal yang saya baca, untuk terhindar dari sakit kita butuh keseimbangan, konsep homeostasis itu tadi yang bekerja dan menjadi landasannya.

Sebagai orang yang dikaruniai akal budi dan beragama, bukan kah keseimbangan juga sama pentingnya?

Sebagai seorang muslimah saja, saya kerap kali ditanya.

Kamu muslim golongan apa?

Dengan tegas saya menjawab, saya muslimah.


Jika kamu ingin bertanya golongan untuk saling menyalahkan, kamu salah  bertanya. Saya pribadi  sulit menerima semua dogma yang kerap digaungkan.  Menurut saya, Islam itu memudahkan. Karenanya Setelah saya banyak belajar, Islam itu memang benar-benar mudah.


Namun, dogma yang dikibarkan kerap hanya menguntungkan sepihak saja, oleh karena penting bagi seorang muslimah cerdas untuk terus belajar dan tidak terbohongi oleh doktrin yang keliru.  Karena saya dikaruniai akal dan budi yang membuat saya sangat kritis akan dogma yang ada, juga terus mempertanyakan doktrin-doktrin agama.


Saya pun berharap kamu demikian, menjadi seorang yang kritis berprinsip. Bukan yang fanatik, taklid buta, bahkan gampang dikompori.


Saya juga ingin menegaskan bahwa bagaimana pun kamu baik  menjadi teis, ateis, agnostik, deis, humanis, atau apapun pandangan keagamaan dan spiritual yang kamu yakini dan percaya, semuanya itu tanggung jawabmu, selama kamu tidak memaksakan kehendakmu pada orang lain, mengusik orang lain, merasa paling benar, itu sah-sah saja. 


Saya berharap kita dapat memanusiakan manusia, bukan memandang manusia berkelompok-kelompok dan mendiskriminasi satu sama lain.

 

Salam sayang

Raneey.

 


Get notifications from this blog

Halo! Terima kasih sudah membaca.