√ Memerangi Anak Putus Sekolah Dimulai dari Kita! - Heyraneey | Talk Less Write More

Memerangi Anak Putus Sekolah Dimulai dari Kita!

Tulisan ini mengambil asumsi bahwa putus sekolah yang diakibatkan oleh tekanan psikis ataupun depresi yang dialami oleh siswa akibat tidak sanggup menanggung beban pembelajaran yang begitu banyak. Jika maksud pertanyaan ini asumsinya adalah putus sekolah akibat ekonomi yang tidak memadai, mohon maaf saya tidak membahas terlalu detail di sini.

Sekolah memiliki peranan penting, karena sekolah adalah tempat yang lumrahnya banyak orang tua memercayakan anaknya untuk dididik. Namun, salah langkah dalam pendidikan bisa mengakibatkan anak malas pergi ke sekolah terlebih jika mengalami tekanan psikis yang hebat. Misalnya tidak mampu menangkap pembelajaran sehingga merasa tertinggal dari teman-temannya, lalu muncul rasa minder bahkan bisa berujung depresi.

Lalu apa upaya yang dapat dilakukan sekolah untuk mencegah hal tersebut, menanggulangi anak tinggal kelas dan putus sekolah ? Pendekatan psikologis lah saya rasa mampu menjadi salah satu caranya. Mungkin beberapa hal berikut bisa dilakukan, tapi ini bisa diterapkan pada pendidikan dasar, karena saya pernah menerapkan ini pada adik saya yang masih SD walau tidak diterapkan secara sempurna, saya memiliki peranan penting dalam mendidiknya terlebih selama pandemic ini, adik saya tidak putus sekolah hanya saja memang terkadang mulai ada rasa jenuh dan malas bersekolah, mungkin beberapa cara berikut yang saya coba terapkan sekolah juga bisa menerapkannya :
1. Menekankan Pentingnya Belajar dan Bersekolah

Hal ini tidak harus menekan anak dengan keras dan tegas, lalu mengatakan padanya untuk sekolah setiap hari. Itu malah membuat anak merasa takut berada di sekolah karena takut dimarahi dan diberikan tugas yang tidak mamapu ia kerjakan, dalam perkara ini diperlukan adanya motivasi setiap hari dan bimbingan konseling untuk mengatasi ketakutan yang dia alami. Perlahan hal itu akan bisa diatasi dengan menghadapinya secara langsung. Makin lama anak semakin paham akan pentingnya sekolah dan motivasi belajarnya semakin meningkat ini dapat mengurangi angka tinggal kelas, putus sekolah, dan pencegahan yang efisien.

2. Berusaha Tegas dan Konsisten

Ketika anak sudah tertarik dengan sekolah biarkan ia merasakan bagaimana bahagianya sekolah. Kita pasti akan mendengar keluhan, rengekan, atau pun anak yang tidak mau sekolah. Jika anak tiba-tiba mogok sebaiknya orang dewasa tidak melayani sikap negosiasi anak. Biarkan anak untuk terbiasa dengan lingkungan sekolah sehingga anak akan mempunyai kesadaran sendiri kenapa dirinya harus sekolah dan tidak akan terbiasa memanipulasi orang tua dan lingkungannya.

3. Meperbaiki Tata Cara Mendidik yang Monoton Menjadi Interaktif.

Anak akan sangat senang jika guru yang menerangkan di depan lebih interaktif dan memiliki alat peraga yang komunikatif. Anak akan sangat senang jika diberi contoh yang lebih nyata dibandingkan hanya dengan melihat buku yang bergambar monoton. Tanyakan pada anak secara menyeluruh tentang pertanyaan agar anak lebih tertarik dengan materi yan diterangkan dan merasa diperhatikan serta dihargai. Jadikan suasana sekolah sebagai tempat yang aman dan mendukung kegiatan anak dalam mengeksplorasi dirinya.

Saya sangat mengapresiasi sekolah adik saya, adik saya yang SD bersekolah di Sekolah Swasta Tahfidz (mendidik murid menjadi penghafal Al-qur'an) yang yang menjadikan hafalan Al-qur'an sebagai poin penting. Hamdalah adik saya sudah hafal beberapa juz di Al-qur'an karena sejak PAUD sudah difokuskan demikian, saat ini dia baru saja naik kelas dan duduk di kelas 2 SD. Pembelajaran yang diajarkan itu cukup asyik karena waktu awal adik saya belum betah di sekolah saya sering menunggunya dan melihat cara gurunya mengajar. Guru-gurunya menerapkan metode hafalan yang menggunakan gerakan isyarat dan visualisasi yang menarik untuk mengajak anak didik menghafal Al-qur'an, kemudian juga guru-gurunya asyik bahkan sangat sabar, adik saya pada awal sekolah dia terus menangis, memberontak, dan tidak mau sekolah. Seiring berjalannya waktu dia jadi senang pergi ke sekolah bahkan kami sangat kenal dekat dengan gurunya.

4. Jadikan Anak Didik ‘Ingin Tau’ Bukan ‘Diharuskan Tau’

Para pendidik perlu memberikan kesempatan pada anak menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolahnya. Sistem pendidikan yang mengharuskan ‘anak-anak tau’ digambarkan dengan jelas pada film Serdadu Kumbang yang mengangkat kisah pendidkan dari Desa Mantar, Kecamatan Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Pendidikan yang disiplin ‘keras’ membuat anak-anak takut untuk sekolah bahkan putus sekolah. Hal ini mengharuskan kita agar menata pendidikan dengan konsep ‘Belajar itu menyenangkan’

5. Luangkan Waktu Diskusi untuk Anak Didik

Banyak anak yang mengalami permasalahan dalam pembelajaran, namun tidak tau harus berbuat apa. Hal ini menjadikannya salah kaprah dan salah arah hingga kita tidak tahu akar permasalahannya. Apa yang membuat anak takut, cemas atau enggan pergi ke sekolah ? hal ini akan sulit kita ketahui jika tidak tahu apa akar permasalahannnya. Dalam hal ini harus dilakukan pendekatan yang baik dengan memberikan waktu diskusi bagi anak.

6. Ekonomi Bukan Penghalang!

Ketika permasalahan ekonomi menjadi dasar anak didik tidak sekolah, tidak peduli , yang menyebabkannya tidak ‘gemilang’ dalam dunia sekolah karena didasarkan hal ekonomi. Ubahlah dan berikan pengetahuan yang baik bahwa pemerintah sangat mendukung pendidikan dengan banyaknya subsidi di bidang pendidikan. Berikan penjelasan dengan baik terutama kepada orang tua sehingga anak didik mengerti bahwa ekonomi bukan penghalang dalam pendidikan. Malah pendidikan salah satu jalan meningkatkan kasta ekonomi, dengan berprestasi maka anak didik pada sekolah dasar akan mampu menjadi siswa yang tidak tertinggal dan tentunya akan mendapat beasiswa, KIP (Kartu Indonesia Pintar), dana siswa berprestasi dan banyak hal lainnya.

Yang terpenting dari penerapan strategi pendekatan psikologis adalah adanya hubungan yang harmonis dan mengerti psikologis anak didik sekolah dasar. Pendekatan psikologis juga dilakukan dengan memerhatikan banyak aspek siswa itu sendiri. Hal yang harus selalu kita ingat tentang pendidikan adalah “Mendidik bukan dengan cara memaksa akan tetapi dengan cara yang luar biasa".

Terima kasih sudah membacašŸ˜Š

Get notifications from this blog

Halo! Terima kasih sudah membaca.