√ Bagaimana Pendapatmu dengan Kasus Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) yang Meningkat Selama Pandemi? - Heyraneey | Sharing is caring

Bagaimana Pendapatmu dengan Kasus Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) yang Meningkat Selama Pandemi?

Ini sebenarnya bisa dibilang banyak poin yang sama aja sih dengan pelecehan ataupun kekerasan berbasis gender secara offline.


Kenapa? Karena efeknya sama sama-sama bisa membuat trauma pada korban. Bedanya apa? Caranya dan medianya.

Adanya KBGO meningkat signifikan selama pandemic arena semuanya mau nggak mau dialihkan secara online sehingga perbuatan jahat pun sekarang bisa online.

Kejahatan itu jauh terbuka lebih lebar, kejahatan mau itu online atau offline yang namanya kejahatan ya tetap kejahatan.

“Kalau kita melihat Catatan Tahunan Komnas Perempuan 2021, Kekerasan Berbasis Gender Online di masa pandemi mengalami kenaikan. Begitu juga dari survey lainnya, termaksud UN Women dalam beberapa laporannya menyatakan ada peningkatan kasus KBGO secara tajam, serta kurang dari 40 persen korban mencari pertolongan,” jelas Menteri PPPA, Bintang Puspayoga dalam acara Literasi Digital: Cegah Kekerasan Berbasis Online (KBGO), yang diselenggarakan secara daring (31/05).

KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK


Sebenarnya apa sih KBGO?

KBGO dapat diartikan sebagai kekerasan yang difasilitasi teknologi pada seseorang dengan tujuan melecehkan korban berdasarkan seks atau gender.


Apa saja contoh dari KBGO?

Beberapa bentuk yang dapat dikategorikan sebagai KBGO berdasarkan panduan oleh SAFEnet di antaranya:

1. Pelanggaran privasi

2. Pengawasan dan pemantauan

3. Perusakan reputasi/kredibilitas

4. Pelecehan

5. Ancaman dan kekerasan langsung

6. Serangan yang ditargetkan ke komunitas tertentu

7. Dll


Siapa korbannya?

Siapa saja dan beragam, saya salah satunya.

Kemarin ada sebuah akun fake yang mengirimi saya pesan di Instagram. Akun ini ternyata follow kedua akun Instagram saya tanpa saya sendiri.

Login • Instagram (Akun private)

Login • Instagram (Akun public)


Awalnya akun Instagram yang pertama adalah private, saya tidak sanggup memfilter lagi akun fake pada saat saya ganti privasi menjadi publik sementara. Karena terpaksa.

Saya menyadari akun fake ini ketika dia membalas ataupun reply instastory saya di akun saya. Saya menanggapi dengan ramah.

Kenapa? karena nama akun fake nya itu adalah nama perempuan. Saya rasa sesama perempuan ya berteman aja, tapi tak sampai sehari, saya menyadari ada hal yang aneh ketika membalas pesannya.

Dari cara dia mengirim pesan seolah menjadi teman tapi lama-lama saya menyadari bahwa ini di balik akunnya adalah laki-laki. Parahnya lagi, orang tersebut adalah orang yang saya pernah kenal.

Kenapa saya bisa tahu? Karena saya sudah diterror bertahun-tahun oleh dia. Dia orang yang sangat tidak sopan kepada saya, kenapa ia menerror saya terus? Simplenya karena saya tidak mau menjadi pasangannya.


Serem dong namanya obsesi itu.



Akun fakenya nggak saya sensor, jika kalian orang yang mengenal saya di real life. Dan mendapat pesan dari akun tersebut, silakan block segera. Itu screenshoot sebelum saya blokir.


Foto yang saya unggah di Instagram, di-screenshot kemudian dikirim ke DM saya. Ketika saya mengunggah di Instagram, menurut saya itu serem.

Bahkan dia mantau Ibu saya serem banget asli.

Ternyata benar ya kata teman saya, oknum laki-laki kalau udah obsesi dan nggak bisa dapetin sukanya merendahkan perempuan yang nggak bisa dapetin itu.

Cinta tak berbalas cari lah yang lain. Kalau sudah menikah setialah dan berkomitmen.


Kenapa saya bilang begitu?

Karena ternyata dia punya akun ‘dakwah’ yang followers lebih dari sebelas ribu, banyak menurut saya. Namun, di balik hal itu sering mengirimi pesan yang tak pantas untuk banyak perempuan, melecehkan secara verbal/ ketikan kepada perempuan, lalu berlindung di balik agama. Jujur saya kesal sekali, kasusnya pernah di-blow up. Namun, kemudian ia menonaktifkan Instagramnya.

Saat masyarakat mulai lupa dengan kasusnya, ia kembali menggunakan Instagram. Saya kira sudah tobat, tapi ternyata nauzubillah makin menjadi, saya terus berlindung kepada Allah dari orang yang begitu.

Dan saya bingung dia bisa-bisanya ngata-ngatain fisik saya, padahal dia nggak pernah melihat saya, saya pernah bertemu dengan orangnya secara nyata dua kali waktu itu di kompetisi itu juga sekilas, kemudian setelah itu nggak pernah bertemu lagi.

Ketika saya unggah instastory dengan menunjukkan wajah saya, ia mereply agar saya menghapus instastory. Kaget dong saya, apa nih akun fake.

Ketika saya blokir akun fake-nya dia bikin lagi akun baru. Aduh sampai saya gumoh loh.

Ya mau bagaimana lagi, ya saya abaikan saja. Saya fokus pada hidup saya. Jangan sampai ia mengganggu orang-orang yang saya sayang, apalagi keluarga, pasangan, dan teman-teman saya.


Pas banget pula unggahan kak Gita savitri tadi, benar- benar relate.

Tentang oknum 4kh1–4kh1

Bisa langsung ke IG nya.


Terrnyata ya rata-rata perempuan pernah mengalami KBGO hanya saja terkadang tidak disadari atau lingkungan memaksanya untuk menganggap itu hal biasa, seremnya kalau berada di lingkungann yang memaklumkan.

Teman-teman yang pernah mengalami kekerasan berbasis gender online, jangan takut speak up.

Ceritakan pada orang kamu percayai dan memberi solusi.

Saya membuat sedikit konten edukasi di sini👇👇

Login • Instagram

Mungkin bisa dilihat dan teman-teman bisa menuju ke website Awas KBGO juga bisa mengunduh beberapa modul terkait dengan KBGO, karena rape culture itu harus diputuskan rantainya, enggak bisa kita terus hidup begini.

Kalau temen-temen mau berbagi cerita, pesan, apapun, hubungi saya yaa.

Salam sayang dari Raneey🤍🤍

Get notifications from this blog

Halo! Terima kasih sudah membaca.