√ Pacaran? Worth It Gak Ya? - Heyraneey | Talk Less Write More

Pacaran? Worth It Gak Ya?


 

Ini bisa ya dan tidak tergantung sudut pandang kamu yaa. Kalau saya pribadi kalau ada tujuan akhir, misal pernikahan, itu bisa dipertimbangkan gak harus pacaran juga sih, pendekatan misalnya.  Kalau untuk haha hihi, ga punya waktu untuk itu, karena usia 21 tahun sudah cukup matang saya rasa.

Kalau mau 'dekat' pun, boleh aja. Boleh banget malah, saya wajib melibatkan orang tua, baik orang tua saya atau pihak lelakinya.
Bukan tanpa alasan, karena yang paling ditakutkan seorang manusia ketika menjalani hubungan,

"Hanya mencintai pasangannya saja, bukan keluarganya" ini akan jadi disaster, di masa mendatang. Padahal kan pasangan dan keluarganya itu sepaket, kalau bisa menyayangi pasangan maka  menyayangi keluarganya juga. No debat.


Saya juga pinginnya
Hubungan yang "power couple"

Adanya kesetaraan dan keseimbangan antara kedua belah pihak.
Keseimbangan dalam hal apa aja?

1. Agama, saya ga nyari yang alim banget masyaAllah. Saya nyari yang bisa seimbang, sekufu dalam hal agama.
2. Daya tarik, ini berkaitan kecerdasan, pola pikir,  motivasi hidup, visi misi, daya juang, energi keduanya seimbang,  tapi tentu dapat saling mengisi dengan kelebihan kekurangan masing-masing untuk menguatkan.




Saya ngga pengen punya pasangan untuk dikuasai ataupun menguasai. Paham dong ya?
Kekurangan pasangan dijadikan alasan untuk mendominasi, Saya nggak mau itu.  Namun, kekurangan bisa Saya jadikan faktor bertumbuh menjadi lebih baik. Ingin pasangan itu saling mendukung bukan menghambat dengan alasan 'insecure' karena egonya.

Ingin hubungan yang seimbang dan nggak monoton, sisi romantis, persahabatan, bisnis, petualangan, bertumbuh, berproses, belajar  ada.

Cuma, ini hubungan yang  nggak bisa sembarang, harus selalu dipupuk, diurus, dimanajemen,  dan dijaga.  Kalau nggak ya jadi bencana ahhaha.

Karena melibatkan intelektualitas antarkeduanya, yang pada dasarnya sama-sama visioner.
Harus bener-bener mau mengenal dan memahami pasangan, juga 'timing' emosinya.

Intinya sih, ngerti dan bisa ngertiin untuk saling gantian kapan untuk keras dan kapan untuk lembut.

Kalau tidak saling mengimbangi, beuh kacau. Dua orang punya pemikiran sendiri, tegas,  saling mempertahankan argumen atau menyerang,  gamau ngalah, hancur!


Makanya butuh keseimbangan dan kestabilan agar bisa bertahan jangka panjang.

Namun, bagusnya adalah ini tipe hubungan yang membuat siapa pun yang menjadi pasangannya bertumbuh menjadi lebih baik. Mencapai level yang bahkan nggak terbayangkan.

Butuh manajemen energi, emosi, waktu, yang bagus. 

Ya tapi itu yang saya usahakan, dan cita-citakan balik lagi apakah Tuhan mengizinkan atau tidak kan.




Get notifications from this blog

Halo! Terima kasih sudah membaca.