√ Meningkatkan Kualitas Diri Sebagai Calon Istri - Heyraneey | Talk Less Write More

Meningkatkan Kualitas Diri Sebagai Calon Istri






Karena saya mempersiapkan diri untuk menjadi seorang istri, bukan hanya untuk dipacari, tapi jika ingin dinikahi hayuk kenalan lebih dekat dengan syarat melibatkan orang tua.

Oke,  jadi sebenarnya kalimat mempersiapkan diri menjadi seorang istri ini bukan dalam artian lebay.
Bismillah gambaran saya di masa depan.

Apa saja sih yang saya persiapkan?
Saya list saja ya, mungkin teman-teman juga ingin memulai, atau sama-sama belajar.

1. llmu agama, yaitu memahami fiqih wanita, fiqih pernikahan, dan sebagainya. Juga harus tahu hak kewajiban suami istri, terhadap keluarga, masyarakat,  lingkungan, dll.

2.  Manajemen emosi, manajemen emosi Ini sebenarnya sudah lama saya pelajari sejak Sekolah Menengah Atas yaitu untuk bisa bersikap lebih tenang, sabar, bersikap lebih keibuan, dan akhir-akhir ini saya mempelajari suatu hal itu namanya legowo.  Yang mana Kalau saya tidak mendapatkan sesuatu, dengan syarat sudah usaha,  ya sudah saya pasti akan mendapat gantinya yang lebih baik karena Allah tidak pernah tidur.

3. Mengatur keuangan, saya memegang prinsip suami yang tetap harus menafkahi istri.  Manajemen keuangan,  mengetahui bagaimana dana darurat, dana pendidikan, tagihan, dana untuk keluarga, dan sebagainya.  Makanya untuk di rumah, saya ayah saya memanggil saya "bendahara" karena untuk tagihan, dan juga yang berurusan dengan transfer melalui m-banking saya yang ambil alih. Tagihan listrik, internet, dan sebagainya saya yang diberi kepercayaan untuk mengatur.

4. Belajar lebih dalam tentang basic skill. Saya bisa  memasak, mau menggunakan listrik, kompor gas, atau kayu bakar saya bisa. Menata rumah, ataupun  merawat rumah seperti berberes rumah juga bisa. Setidaknya urusan saya sendiri seperti pakaian, kebersihan kamar, kamar mandi, itu  bisa saya kerjakan.

5. Perawatan diri sebenarnya ini memang sudah saya rawat sih sejak dulu, karena saya menghargai diri saya sendiri, ciptaan Allah dengan cara saya merawatnya sebaik mungkin. Namun, ini sangat penting karena saya benar-benar merasakan perbedaan antara sebelum terawat dan sesudah.

6. Menjaga diri dengan interaksi terhadap laki-laki. Saya cukup menjaga, saya bisa menjamin dan saya terus berdoa berusaha tidak pernah ada satu laki-laki pun yang ( bukan mahram ) yang bisa mencium pipi saya setelah saya baligh.  Tidak pernah ada satu laki-laki pun selain ayah dan juga adik laki-laki saya juga anak kecil yang bisa memeluk saya, saya tidak pernah mengizinkan itu.

7. Saya menjaga diri termasuk interaksi di media sosial seperti batas maksimal untuk mengirim pesan, harus konfirmasi sebelum telepon ataupun video call, saya ya tidak mau terlalu sering untuk video call dan juga telepon  kecuali yang penting ataupun orang yang penting terhadap hidup saya, saat video call juga saya  sangat menjaga batasan. Saya bisa memahami karena ini adalah kondisi pandemi, interaksi harus dialihkan secara online semua.

8.Saya menjaga diri untuk tidak pernah berhubungan sexual selain dengan suami,  haram hukumnya  dan siapapun yang kalimatnya tidak sopan pasti akan saya blokir dari hidup saya dan Alhamdulillah sampai saat ini orang-orang yang saya kenal tidak pernah berani hal ini bahkan saya pernah dekat sama laki-laki dan sangat menghargai saya, memahami prinsip hidup saya dan syukurnya memiliki prinsip yang sama.

9. Belajar penting,  saya sangat suka terhadap anak kecil dan saya ketika menikah saya ingin punya anak.  Jangan dekati saya kalau kamu penganut childfree karena saya ingin memiliki suami yang memiliki visi misi prinsip seperti saya l, yaitu ingin memiliki anak.  Kalaupun memang suatu saat lama dikaruniai anak, setidaknya kita memiliki prinsip yang sama dan memiliki usaha yang sama untuk memiliki anak.  Karena saya berkaca dari beberapa kasus ketika hanya si perempuan yang ingin memiliki anak dan laki-lakinya bodo amat, perempuannya berjuang sendirian entah itu ke dokter sendirian, kontrol sendirian, program sendirian, itu sangat melelahkan dan ngebatin.  Jadi saya ingin punya laki-laki dan suami jika pun kesulitan suatu saat kita berjuang sama-sama.


10. Family oriented saya bisa bilang ini salah satu hal yang ada di diri saya, saya menggunakan nama asli di Quora, jadi ngapain ngarang kan. Bisa tanya siapapun yang kenal saya, ya saya sangat berorientasi terhadap keluarga.  Bagi saya, keluarga itu adalah anugerah yang sangat luar biasa terhadap saya. Saya merasa bahwa Alhamdulillah Masya Allah saya berasal dari keluarga yang harmonis semuanya akur dan itu kekuatan saya. Oleh karena itu, saya mencontoh dan sangat ingin harmonis juga,  sangat menghargai suatu institusi pernikahan sangat menghargai kehadiran orang yang bisa menghargai saya dan belajar tentang kesetiaan.

11. Belajar memahami dan juga menoleransi perbedaan. Entah mengapa saya merasa bahwa jika jodoh itu bukan berarti yang plek persis sama. Memiliki kesamaan, tetapi juga perbedaan cara melihat karakter ayah dan ibu saya. Ibu saya orang yang yang sangat introvert, pemalu, dan tidak berani berbicara di depan publik, sedangkan Ayah saya adalah orang yang sangat pemberani, aktif di komunitasnya, dan sering berbicara di depan publik. Namun, ya jodoh alhamdulillah.

12. Mempelajari  bagaimana memahami dan menyenangkan suami. Itu merupakan hal yang penting tapi harus vice versa. Penting karena Ibu saya bilang bahwa laki-laki itu dipuaskan oleh tiga hal yaitu dari matanya dari perutnya dan dari kemaluannya dari matanya yaitu bagaimana  dapat sabar  terhadap suami dan menyenangkannya, dari perutnya bagaimana kita dapat menyenangkan suami dengan memasak makanan kesukaannya, dan juga dari kemaluan yaitu kita dapat memahami  kebutuhan biologis masing-masing. Tentu saja hal ini harus didukung oleh "modal" suami juga hahahaha. Selain cocok secara jiwa dan raga, harus cocok secara good looking dan good rekening.



Dengan alasan-alasan tersebut yang tidak mungkin semuanya saya jabarkan tentu saja saya tidak berpacaran, karena saya meningkatkan kualitas diri bukan sekadar untuk dijadikan pacar, tapi untuk dijadikan istri.  Karena saya mencari untuk long term relationship.

Saya pernah bilang ini sama teman-teman saya bahwa 2021 ini saya memang sedang looking for long term relationship yaitu mengenal seseorang tapi bukan untuk  pacaran, mengenal 1-3 tahun dulu.   Mengenal untuk pernikahan gitu, karena saya tidak dan bukan penganut kenal 2 bulan terus nikah.  Saya ingin mengenal baik buruk dan seburuk buruknya kondisi terburuknya pasangan.  Jika saya bisa menerima dan juga jika dia bisa menerima seburuk-buruknya saya dan seburuk buruknya kondisi masing-masing, tentu saja hal-hal baik akan bisa kita jalani.

Setelah menikah akan lebih beda, tentu walau saya percaya sesudah pernikahan itu akan memulai hidup yang baru, tentu banyak yang berubah, tapi saya tetap menyerahkan semuanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Semoga saya mendapatkan suami yang memang karakter sebelum menikah dan sesudah menikah itu adalah karakter yang sama atau bahkan jauh lebih baik jauh lebih menghargai istri serta jauh lebih baik. Karena ya hidup ini dinamis, tapi saya mencintai kestabilan. Seumur hidup terlalu panjang untuk dihabiskan dengan orang yang salah.

Get notifications from this blog

Halo! Terima kasih sudah membaca.